Rabu, 22 Oktober 2014

Ujian Dari Allah dan Cara Mengatasinya


﴿ لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [ آل عمران : 186 ]
Artinya: “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”[1] (QS Âli ‘Imrân : 186)

Tafsir Ringkas
Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Allah ta’âla mengabarkan dan mengatakan kepada orang-orang mukmin bahwa mereka akan diuji pada harta mereka dengan mengeluarkan nafkah-nafkah yang wajib dan juga yang sunnah serta dengan kehilangan harta mereka untuk (beribadah/berjuang) di jalan Allah. (Mereka juga akan diuji) pada diri-diri mereka dengan berbagai hal yang berat yang dibebankan oleh banyak manusia.
(Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati) berupa celaan terhadap diri-diri, agama, Kitab dan Rasul kalian…Oleh karena itu, Allah berkata, ‘(Jika kamu bersabar dan bertakwa)‘ maknanya adalah jika kalian bersabar atas apa-apa yang kalian dapatkan pada harta dan diri kalian berupa ujian, cobaan dan gangguan dari orang-orang yang zolim, serta kalian dapat bertakwa kepada Allah di dalam kesabaran itu dengan meniatkannya untuk mengharap wajah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, dan kalian tidak melampaui batas kesabaran yang ditentukan oleh syariat yang mana pada saat itu tidak dihalalkan menghadapinya hanya dengan kesabaran, tetapi harus dengan membalas perlakuan musuh-musuh Allah. (Maka Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan) artinya itu termasuk urusan yang harus didahulukan dan saling berlomba-lomba untuk meraihnya. Tidaklah ada yang diberi taufik untuk dapat melakukan hal ini kecuali orang-orang yang memiliki tekad kuat dan semangat tinggi sebagaimana firman Allah ta’âla, (artinya): ‘Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.
[2].”[3]

Sebab Turunnya Ayat (sababun-nuzûl)
Sebagian ayat-ayat Al-Qur’ân memiliki sebab mengapa ayat tersebut diturunkan. Ayat ini diturunkan berhubungan dengan kisah yang terjadi di pemukiman Al-Hârits bin Al-Khazraj (Madinah) sebelum terjadinya perang Badar.
Kaum muslimin ketika itu sedang berkumpul dengan kaum musyrikin dan  orang-orang Yahudi. Datanglah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam ke tempat itu dan memberi salam. Di majlis itu ada ‘Abdullâh bin Ubai bin Salûl, dia berkata, “Janganlah kalian mengotori kami!” Rasulûlullâhshallallâhu ‘alaihi wa sallam pun mengajak mereka untuk masuk ke dalam Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. ‘Abdullâh bin Ubai menyahut, “Wahai lelaki! Apa yang engkau katakan bukanlah sesuatu yang bagus.  Jika itu adalah sesuatu yang hak, maka Janganlah kamu mengganggu kami dengan perkataan itu! Kembalilah ke hewan tungganganmu! Barang siapa mendatangimu, maka ceritakanlah perkataan itu!”
Perkataan itu sangat menyakitkan hati kaum muslimin, sehingga terjadilah pertengkaran di majlis itu antara orang-orang muslimin dengan orang-orang kafir. Akhirnya, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun menenangkan mereka. Setelah mereka tenang Rasûlullullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun kembali ke tunggangannya dan pergi. Setelah itu Allah menurunkan ayat ini yang berisi perintah untuk bersabar atas gangguan-gangguan orang-orang kafir.[4]

Penjabaran dan tafsir ayat
Ujian adalah sunnah kauniyah (ketetapan Allah yang pasti akan terjadi) untuk setiap muslim
Allah subhânahu wa ta’âla berfirman:
﴿ لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
Artinya: “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.”


Ujian adalah sunnah kauniyah untuk setiap muslim. Seorang muslim tidak mungkin mengelak dari ujian tersebut. Oleh karena itu, Allah memberi dua penekanan pada ayat ini dengan firman-Nya ( لَتُبْلَوُنَّ ) “kamu sungguh sungguh dan benar-benar akan diuji.”[5]
Al-Mufassir Ibnu Katsir berkata, “Firman Allah (Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu) seperti firman-Nya: (Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn’)[6]Seorang mukmin pasti akan diuji pada sesuatu dari harta, jiwa, anak dan keluarganya.[7]
Allah subhânahu wata’âla juga berfirman:

﴿ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْض [ محمد : 4]
Artinya: “Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.” (QS Muhammad : 4)
Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

(( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ: يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّينُ إِلَّا الْبَلَاءُ ))
Artinya: “Demi yang jiwaku berada di tangannya! Dunia ini tidak akan fana, kecuali setelah ada seseorang yang melewati sebuah kuburan dan merenung lama di dekatnya seraya berkata, ‘Seandainya aku dulu seperti penghuni kubur ini, tidak ada yang dirasakan pada agamanya kecuali hanya ujian saja.’.”[8]



Kuatnya iman dan besarnya ujian selalu berbanding lurus
Semakin kuat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allah akan semakin besar. Rasulûllâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh radhiallâhu ‘anhu:
(( يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ))
Artinya: “Ya Rasûlullâh! Manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keberagamaannya. Jika agamanya kuat maka akan ditambahkan ujian itu. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar keberagamaannya.”[9]
Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
(( إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ))
Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Barang siapa yang rida dengan ujian itu maka ia akan mendapat keridaan-Nya. Barang siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kebencian-Nya.”[10]


Mengapa Allah mengabarkan bahwa ujian ini pasti akan terjadi?
Ada beberapa faidah yang bisa kita “petik” dari pengabaran itu, di antaranya:
1.       Kita akan mengetahui bahwa ujian tersebut mengandung hikmah Allah ta’âla. Dengan hikmah itu, Allah membedakan muslim yang benar keimanannya dengan yang tidak.
2.       Kita akan mengetahui bahwa Allah-lah yang mentakdirkan ini semua.
3.       Kita akan bersiap-siap untuk menghadapi ujian itu dan akan bisa bersabar serta akan merasakan keringanan dalam menghadapinya.[11]

Ujian tidak hanya dengan sesuatu yang buruk
Allah tidak hanya menguji seseorang dengan sesuatu yang buruk. Akan tetapi, Allah juga menguji seseorang dengan sesuatu yang baik. Allah subhanahu wa ta’âla berfirman:

﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [الأنبياء: 35 ]
Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan Hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al-Anbiyâ’ : 35)
Terkadang seorang muslim apabila ditimpa dengan musibah dan kesusahan, maka dia dapat bersabar. Akan tetapi, begitu dia diberikan kenikmatan yang berlebih maka terkadang dia tidak bisa “lulus” dari ujian tersebut. ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiallâhu ‘anhu pernah berkata:
 (( ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ ))
Artinya: “Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan kami dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat dan kami pun tidak dapat bersabar.”[12]

Ujian itu adalah rahmat dari Allah
Ujian yang diberikan oleh Allah adalah rahmat kepada seluruh manusia terlebih lagi untuk kaum muslimin.
Allah subhânahu wa ta’âla berfirman:
﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ [ محمد: 31 ]

Artinya: “Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS Muhammad : 31)
Dengan adanya ujian itu, akan tampak orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ini adalah rahmat dari Allah. Allah subhânahu wata’âla berfirman:

﴿ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ [ العنكبوت: 2]
Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-‘Ankabût : 2)

Ujian yang lebih berat dari harta dan jiwa
Ternyata ada ujian yang lebih berat dari ujian pada harta dan jiwa. Apakah ujian tersebut? Allahsubhânahu wa ta’âla berfirman:
﴿ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا [ آل عمران : 186 ]
Artinya: “Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.”
Dengan penggalan ayat tersebut kita dapat menjawab pertanyaan di atas. Ujian yang lebih berat dari hal-hal tersebut adalah ujian pada agama kita.
Kalau kita memperhatikan makna ayat yang kita bahas ini, maka kita akan menemukan bahwa Allah mengurutkan ujian-ujian tersebut dari yang lebih ringan ke yang lebih berat. Ujian pada harta lebih ringan daripada ujian pada jiwa. Ujian pada jiwa lebih ringan daripada ujian pada agama. Seseorang bisa saja memiliki harta yang melimpah dan badan yang sangat sehat, tetapi jika dia keluar dari agama Islam karena tidak tahan dengan cemohan orang-orang kafir, maka ini adalah sesuatu kerusakan yang besar baginya, baik di dunia maupun di akhirat.

Orang-orang kafir tidak akan berhenti mengganggu kaum muslimin
Gangguan dari orang-orang kafir, baik berupa ejekan maupun tindakan fisik, pasti akan terus ada. Allah subhânahu wa ta’âla berfirman:
﴿ وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ [ البقرة: 109 ]

Artinya: “Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran, maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah : 109)
Dan juga firman-Nya:

﴿ وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ البقرة: 120 ]
Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah : 120)

Hakikat ahlul-kitâb berbeda berbeda dengan orang-orang musyrik
Dari ayat di atas, Allah subhânahu wa ta’âla membedakan antara ahlulkitâb (Yahudi dan Nasrani) dengan kaum musyrikin. Ini menunjukkan bahwa hakikat dari Ahlul-kitâb dan musyrikin itu berbeda. Meskipun mereka berbeda, mereka tetap memiliki kesamaan yaitu kesamaan dalam kekafiran.  Tempat kembali mereka di akhirat nanti adalah neraka –na’udzu billah min dzalik-.

Cara yang diajarkan oleh Allah untuk menghadapi segala ujian
Allah tidak akan melalaikan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Allah juga mengajarkan kepada kaum muslimin bagaimana cara menghadapi ujian tersebut. Allah subhânahu wa ta’âlaberfirman:
﴿ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [ آل عمران : 186 ]
Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”
Menghadapi semua ujian harus dengan kesabaran dan ketakwaan. Hukum bersabar dan bertakwa dalam menghadapi ujian bukanlah sunnah, tetapi itu adalah sesuatu yang wajib dikerjakan oleh semua muslim.

Penyebutan kesabaran yang berdampingan dengan ketakwaan di dalam Al-Qur’an
Setidaknya, di Al-Qur’an ada enam tempat dimana Allah menggabungkan kata kesabaran dan ketakwaan dalam konteks yang sama, yaitu: di dalam surat Ali ‘Imran ayat 118, 125, dan 186, di dalam surat Yusuf ayat 90, di dalam surat An-Nahl ayat 125 hingga 128 dan surat Thâha ayat 132.[13] Ini menunjukkan bahwa kesabaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan ketakwaan.

Hasil yang didapatkan dengan bersabar
Orang yang dapat bersabar menghadapi semua ujian akan memperoleh hal-hal yang terpuji, di antaranya[14]:
1.       Dia akan mendapatkan pahala seperti orang-orang yang memiliki keteguhan hati (ulul-‘azm).[15]
2.       Dia akan mendapatkan keberkatan yang sempurna, rahmat dan petunjuk dari Allah.
Allah subhânahu wa ta’âla berfirman (artinya): “Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah : 157)
1.       Dia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Allah subhânahu wa ta’âla berfirman (artinya): “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS Fushshilat : 35)
2.       Dia akan mendapatkan pahala tanpa batas. Allah subhânahu wa ta’âla berfirman (artinya): “Sesungguhnya Hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar : 10)
3.       Dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah ta’âla. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallambersabda:

)فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ(
Artinya: “Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”[16]

Dakwah pun pasti penuh dengan ujian
Para dai (pendakwah) adalah penerus Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang yang akan mendapatkan ujian yang paling berat. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk dapat berilmu, beramal dan berdakwah. Mereka tidak hanya akan diuji dengan kekurangan harta, kelelahan fisik dan lain-lain, tetapi mereka juga akan diuji dengan ejekan, cemohan dan fitnah, baik dari kaum muslimin sendiri maupun dari kaum kafirin. Di antara mereka ada yang dapat bersabar menghadapinya dan terus berdakwah di masyarakat, tetapi ada juga yang tidak bisa bersabar dan mencari tempat yang sepi untuk menjauhi masyarakat. Para pendakwah yang dapat bersabar menghadapi gangguan dari masyarakat lebih baik daripada yang tidak dapat bersabar. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ ))
Artinya: “Seorang muslim yang berkecimpung dengan manusia dan dapat bersabar atas gangguan-gangguan mereka lebih baik dari muslim yang tidak berkecimpung dengan mereka dan tidak sabar dengan gangguan mereka.”

Kesimpulan dan faidah dari ayat
1.       Ujian pada harta, diri dan agama adalah sunnah kauniyah (ketetapan Allah yang pasti terjadi) pada setiap muslim.
2.       Kaum kafirin akan selalu mengganggu kaum muslimin, baik dengan perkataan ataupun perbuatan
3.       Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar mereka bisa bersabar dan bertakwa untuk menghadapi seluruh ujian tersebut.

Tamma bifadhlillâh wa karamihi. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Jember, Shafar 1431 H

[1] Lihat terjemahan ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya di dalam artikel ini di ‘Al-Qur’an dan Terjemahannya’ yang diterbitkan oleh Mujamma’ Al-Malik Fahd: Madinah Munawwarah, KSA.
[2] QS Fushshilat : 35
[3] Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm Al-Mannân hal. 160.
[4] Penulis ringkas dengan bahasa bebas dari Shahîh Al-Bukhâri no. 4577 (Kitab At-Tafsîr, Surat Âli ‘Imrân)
[5] Syaikh Ibnu ‘Âsyûr berkata, “Allah memberi penekanan pada kata kerja ini dengan lâm al-qasam dan nûn at-taukîd asy-syadîdah untuk menunjukkan bahwa ujian itu akan benar-benar terjadi. Karena nûn at-taukîd asy-syadîdah lebih kuat dari segi pendalilan daripada (nûn) at-taukîd alkhafîfah.” (At-Tahrîr wa At-Tanwîr Jilid IV hal. 189)
[6] QS Al-Baqarah : 155-156.
[7] Tafsîr Al-Qur’an Al-‘Adzîm milik Ibnu Katsîr Jilid II hal. 179
[8] HR Muslim no. 7302
[9] HR At-Tirmidzi No. 2398, An-Nasâi di As-Sunan Al-kubrâ no. 7482  dan Ibnu Mâjah No. 4523 (Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albâni di Ash-Shahîhah no. 143 dan Al-Misykah no. 1562).
[10] HR At-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031 (Hadîts ini di-shahîh-kan oleh Syaikh Al-Albâni di Ash-Shahîhah no. 146).
[11] Lihat Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm Al-Mannân hal. 160.
[12] HR At-Tirmidzi no. 2464 (Hadîts ini di-hasan-kan sanadnya oleh Syaikh Al-Albâni di Shahihwa Dha’îf Sunan At-Tirmidzi jilid V hal. 464.
[13] Untuk empat dari keenam tempat itu penulis mendapatkan faidah dari Daqâiq At-Tafsîr Al-Jâmi’ Li Tafsîr Ibni Taimiyah jilid II hal. 299-300, adapun sisanya penulis memanfaatkan Software Maktabah Syâmilah untuk mencarinya.
[14] Poin ke-2 hingga ke-4 Penulis mengambil faidah dari Adhwâ’ Al-Bayân jilid I hal. 187
[15] Lihat At-Tahrîr wa At-Tanwîr jilid IV hal. 190
[16] HR At-Tirmidzi no.2398 , An-Nasâ’i di As-Sunan Al-kubrâ no. 7482 dan Ibnu Mâjah no. 4523 (Hadîts ini di-shahîh-kan oleh Syaikh Al-Albâni di Ash-Shahîhah no. 143 dan Al-Misykâhno. 1562).

Penulis: Al-Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc

Hikmah dalam Kisah Qarun

Hikmah dalam Kisah Qarun

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa.”

Qarun berasal dari kaum Nabi Musa ‘alaihissalam. Artinya dia berasal dari tengah-tengah masyarakat yang Nabi Musa diutus kepada mereka.
  1. Qarun bukan termasuk keluarga Musa. Karena keluarga Musa terdiri dari orang-orang yang beriman berkat dakwah dan risalah yang dia bawa. Karena ahlun tali (keluarga) tidak disandarkan pada kerabat yang tidak beriman.
  2. Bisa jadi Qarun adalah orang yang pada awalnya beriman dengan dakwah Nabi Musa. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan baginya jalan untuk mendapatkan harta dan perbendaharaan-Nya dia lupa dengan seruan yang telah diserukan kepada dirinya karena sibuk dengan kekayaan yang ia miliki, dan kemudian dia berlaku sewenang-wenang pada kebenaran dan kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.”
  1. Allah telah membukakan untuk Qarun pintu-pintu kekayaan yang luar biasa; seperti emas, perak, dan berbagai macam barang tambang.
  2. Allah menguasakan padanya ilmu dan pengetahuan tentang cara mengumpulkan harta.
  3. Allah menguasakan padanya cara mengolah dan mengembangkan harta serta cara memelihara dan menjaganya.
  4. Qarun telah mempekerjakan sekelompok pembantu dan pengawal dalam menjaga harta dan kunci-kunci perbendaharaannya.
  5. Kezaliman Qarun telah melampaui batas. Dia telah menzalimi diri sendiri, kaumnya, dan angkuh terhadap mereka.
  6. Qarun memiliki sebab-sebab yang dapat menghantarkan dirinya pada kekayaan di bidang ekonomi hingga dia menjadi pemimpin yang agung. Sepadan dengan kepemimpinan Fir’aun dalam hal politik. Keduanya sama-sama memerankan monopoli pasar dan perdagangan. Memonopoli pemikiran dan akal masyarakat umum yang lugu; yang rela begitu saja dengan kondisi yang ada.
Firman Allah,
“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”
  1. Menunjukkan eksistensi para da’i yang mengingatkan Qarun kepada Allah. Mereka semua turut serta membantu Nabi Musa dan saudaranya Harun.
  2. Perkataan mereka, “Janganlah kamu terlalu bangga.” Artinya, jangan terlalu bangga yang berakibat pada keingkaran dan lupa akan hak-hak Allah. Kebanggaan yang berakibat pada kezaliman dan kesewenang-wenangan terhadap hamba; kebanggaan yang akan menyiksa dan menindas kaum fakir dan lemah.
  3. Kaum di sini adalah kaum yang telah beriman berkat dakwah Musa ‘alaihissalam. Mereka ingin sekali agar Qarun mendapatkan hidayah. Mereka tahu apa yang bakal menimpa Qarun jika dia tidak beriman. Mereka adalah kelompok orang beriman yang berbicara lantang dalam rangka merubah kondisi dan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
  4. Di antara kaum tersebut terdapat orang-orang yang belum beriman. Kezaliman Qarun telah menjadikan mereka lemah secara materi, faqir, kelaparan, dan sakit. Kondisi tersebut merupakan akibat dari sikap Qarun yang memonopoli perekonomian mereka. Maka ketika mereka menyaksikan apa yang dikatakan orang-orang beriman terhadap Qarun, muncullah mental dan keberanian mereka untuk bergabung bersama kaum mukminin.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikamatan) dunaiwi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
  1. Nabi Musa ‘alaihissalam dan saudaranya dapat membina para da’i kelas utama yang mewarisi dakwah. Mereka mengerjakan kewajiban dakwah mereka dengan metode yang baik dan penyampaian ringkas. Dialog mereka dengan Qarun adalah bukti terbaik akan hal ini.
  2. Peringatan bagi Qarun bahwa jika dia belum beriman, mendermakan hartanya untuk kemakmuran bumi, dan membantu orang-orang yang membutuhkan, maka pekerjaannya merupakan pekerjaan orang-orang yang suka membuat kerusakan.
  3. Peringatan bagi Qarun agar dia seimbang dalam menginfakkan hartanya, dengan cara berbuat baik kepada manusia sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berbuat baik kepadanya.
  4. Menurut sangkaan dan pandangan Qarun pekerjaan yang dia kerjakan merupakan pekerjaan orang-orang yang suka membuat perbaikan. Tapi, di mata orang-orang  yang suka membuat perbaikan, pekerjaan Qarun adalah pekerjaan orang yang suka berbuat kerusakan. Maka jika dia meneruskan pekerjaannya akan berakibat kerusakan di muka bumi yang akan menimpa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati.
Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’.”
  1. Qarun sombong dengan dengan apa yang ia capai. Ia menyatakan hal itu semata-mata karena ilmu yang ada pada dirinya. Benarkah dia tidak pernah belajar ilmu tersebut pada seorang pun? Dia tidak mengakui hal itu. Dia mengaku bahwa “Harta dan perbendaharaan tersebut merupakan buah dari keseriusanku, kesungguhanku, dan kecerdasanku. Tidak ada seorang pun yang ikut campur di dalamnya.”
  2. Kecintaannya terhadap harta telah menyeretnya pada sikap mengesampingkan pikiran sehat dan tindakan yang benar.
  3. Qarun masuk dalam lingkaran orang yang kufur nikmat, ingkar, lagi membangkang.
  4. Kecintaannya pada dirinya, kseombongan, kebesaran di depan masyarakat yang hadir.
  5. Perkataannya bahwa ilmunya tidak bersandar pada seorang pun merupakan bukti dia sombong dan tidak menghargai orang lain.
  6. Kecintaannya terhadap popularitas dan kekuasaan mencegahnya untuk mengakui akan eksistensi ilah Yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
  7. Karena dia telah berkeyakinan bahwa harta yang dia dapatkan adalah hasil dari ilmu yang dimilikinya, maka tidak ada seorang pun yang berhak atasnya. “Akulah yang paling berhak untuk menggunakannya sekehendak hatiku.” Sebagaimana perkataannya.
  8. “Karena ilmu yang ada padaku. Jadi, aku berhak untuk menjadikan manusia sebagai budak dan setiap yang ada pada mereka adalah berkat keutamaanku.”
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?
  1. Qarun mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang berilmu. Tapi dia lupa akan sejarah, lupa akan runtuhnya kezaliman dan thaghut, lupa apa yang telah berlaku bagi para pendahulunya, lupa tentang siksa yang menimpa mereka akibat kekafiran dan kedurhakaannya.
  2. Sebelum dia, ada orang yang lebih kuat dan lebih banyak anggota, harta, dan ilmu. Tapi adzab dan kebinasaan menimpa mereka karena mereka kafir.
  3. Ilmu dan harta bukan penghalang dari turunnya adzab dan kebinasaan. Tapi terkadang adzab turun karena penggunaan harta dan ilmu bagi orang kafir.
  4. Kecintaan Qarun terhadap harta telah menjadikannya mengesampingkan pikiran sehat dan mengambil pelajaran dari kehancuran umat-umat terdahulu akibat dari kekafiran dan kedurhakaan mereka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.”
  1. Hal ini dilakukan Qarun untuk menutupi kelemahannya di hadapan para da’i. Dia ingin memperlihatkan kekayaannya kepada manusia. Oleh karena itu, dia keluar dengan kemegahannya; dengan emas dan perhiasannya guna menyihir mata dan hati orang-orang yang hadir. Orang-orang yang telah dikalahkan oleh harta dan akal mereka telah dirampas oleh harta.
  2. Menunjukkan kekuatan materi dan ekonomi. Menurutnya, dia dapat menundukkan para hadirin dan membujuk mereka, melemahkan semangat orang-orang yang menasihatinya.
  3. Sebagian besar dari kaum Nabi Musa ‘alaihissalam mempermainkan seruan Nabi Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya.
  4. Qarun menginginkan hati orang-orang yang mendukung Musa condong pada orang yang memusuhi sang nabi.
i
Firmah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.”
  1. Satu bagian terbesar masyarakat yang akan senantiasa ada di setiap zaman. Yaitu manusia yang berangan-angan agar memiliki apa yang dimiliki oleh orang-orang kaya berupa harta dari perbendaharaannya.
  2. Bagian masyarakat ini dapat dikenali dengan kondisi imannya yang lemah, mudah goyah, dan tidak teguh dalam menghadapi kesulitan.
  3. Selain itu mereka juga dijangkiti oleh sikap membebani diri dengan suatu hal yang diluar batas kemampuannya. Yaitu bersikukuh untuk mendapatkan bagian kekayaan  sebagaimana Qarun.
  4. Mereka merasa rendah diri karena kefakiran yang ada pada mereka atau karena lemahnya mereka di depan Qarun.
  5. Mungkin hal ini merupakan ujian dari Allah untuk menguji kaum mukminin dengan harta Qarun dan kemegahannya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, padahal Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar’.”
  1. Bagian masyarakat yang lain adalah masyarakat yang sadar akan kebenaran dan hakikatnya. Dia tahu tentang hakikat dunia dan akhirat. Mereka adalah orang-orang yang tahu tentang hati yang sakit yang tergantung pada cinta dunia.
  2. Bagian masyarakat lain yang mengetahui bahwa negeri akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada perbendaharaan dunia seluruhnya, bukan hanya lebih baik dari harta Qarun saja.
  3. Para da’i kaum Nabi Musa –setelah mereka menasihati Qarun– telah menunaikan kewajiban dakwah imani mereka. Menasihati mereka yang akal dan hatinya telah dikuasai oleh penampilan Qarun dan kemegahannya. Mengingatkan mereka akan urgensi Iman dan amal shaleh dalam meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
  4. Bagian masyarakat lain yang mengetahui bahwa sikap qona’ah merupakan obat terbaik untuk menyikapi kemegahan Qarun dan hartanya.
  5. Semoga peringatan ini semakin meminimalisir jumlah orang-orang yang terjerumus ke dalam perbuatan serupa yang dilakukan Qarun. Inilah perlunya para da’i bersandar pada penjelasan tentang urgensi amal shaleh di dunia dan di akhirat. Menggelitik sisi keimanan di hati sebagian kaum mukminin yang ternyata ia terlalu lemah dalam menghadap gemerlap harta yang dimiliki Qarun.
Firman Allah,
Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
  1. Alam ini akan berjalan sesuai dengan sunah-sunah ilahiyah dan kauniyah Allah hingga hari kiamat.
  2. Terbenamnya Qarun beserta harta kekayaannya merupakan balasan dari amal perbuatannya yang jelek, serta balasan dari kezaliman, kecongkakan, kesombongan, dan keingkarannya terhadap Musa dan dakwah yang dia bawa.
  3. Penolong orang-orang yang melampaui batas ketika dia dalam keadaan lapang sangat banyak. Karena mereka adalah orang-orang yang berserikat untuk mendapatkan keuntungan. Tapi, jika sebuah urusan sudah berhubungan dengan akhirat maka tidak ada seorang pun kenal dengan yang lain. Tidakkah bisa Anda saksikan bersamaku, bahwa meskipun Qarun memiliki kekuatan dan kekayaan tidak ada seorang pun yang berani turun tangan untuk menolongnya dari adzab yang menimpanya, meskipun hanya dengan satu kalimat.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu. Berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)’.”
  1. Penjelasan tentang urgensi untuk saling mengingatkan pada keimanan. Peringatan tersebut dapat menyalakan kembali bara keimanan dalam hati saudara-saudaranya yang padam di saat mereka dilalaikan dan lupa oleh kemegahan Qarun. Mereka kemudian kembali kepada Allah setelah mereka menyaksikan dengan mata mereka sepak terjang dan akhir kehidupan Qarun. Mereka yakin bahwa Allah-lah yang melapangkan rezeki-Nya bagi siapa saja yang dikehendaki. Tidak ada hubungannya dengan unsur keberuntungan, tapi murni menunjukkan bahwa harta bisa didapat dengan cara pengambilan sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepadanya. Karena Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Maha Memberi dan Menahan rezeki. Dia memberi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menahan dari siapa saja yang dikehendaki-Nya dalam rangka menguji mereka.
  2. Kesuksesan bagi orang-orang beriman dan kebinasaan bagi orang-orang yang zalim. Demikianlah kondisi mereka hingga hari kiamat kelak.
Sumber: Menjadikan Harta Lebih Berkah, ‘Aly bin Nayyif Asy-Syahud, Pustaka At-Tibyan, Cetakan:1: 2010

 

Orang-orang Yang Dijamin Masuk Neraka: Umayyah bin Khalaf

Umayyah bin Khalaf mengira bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu seorang budak yang dimiliki, badan, akal, serta jiwa dan seluruh anggota badannya. Akalnya tidak mampu meyakini apa yang dia kehendaki, ataupun memikirkan apa yang diinginkannya. Umayyah lupa dan tidak terlintas padanya bahwa akal Bilal dan keimanannya serta aqidahnya tidak berada di bawah kekuasaannya. Dia tidak bisa membendung celah-celah cahaya dalam hati yang bersinar, dengan cahaya Allah.
Mulailah penyiksaan menggiring Umayyah dengan sikap kefajiran dan kedengkiannya. Umayyah seorang yang kaku kepribadiannya, keras hatinya, tidak mengalir di hatinya setetes rasa kemanusiaan. Karena itu sifat jelek tersebut mendorongnya untuk melampiaskan bersama kedengkiannya terhadap Bilal radhiyallahu ‘anhu, di mana sikap Bilal menjadi lambang bagi kemanusiaan dan kebebasan hak.
Sekiranya seseorang menelusuri tingkatan penyiksaan yang begitu pedih dialami oleh Bilal, membayangkan atau menggambarkan keadaan lingkungan Mekah pada waktu itu, dan ia melihat Bilal mampu menanggung bebak siksaan paling pedih, niscaya orang itu mengetahui kedudukan pahlawan ini yang selalu kita ingat setiap hari lima kali, yakni tatkala muadzdzin mengumandangkan seruan untuk shalat. Kita akan mengingat kalimatnya yang kekal penuh barakah lagi indah di bawah siksaan, “Ahad… Ahad..” (Isyarat bahwa Allah Yang Maha esa). Hal ini yang menjadikan Umar ibnil Khaththab yang kuat lagi jenius menghormati Bilal, menghargai keimanan juga kesabarannya, dia memanggilnya, “Tuan kami.” Demi Allah ini merupakan keutamaan yang nyata dan kemuliaan yang agung.

Berbagai Kejadian Sebagai Gambaran Perbuatan Dosa Umayyah

Si kafir lagi pelaku dosa, Umayyah bin Khalaf menyiksa Bilal, menimpali siksa dalam berbagai bentuk dan gambaran dari kebejatannya, berupa kekerasan serta kengerian yang menjadikan kulit merinding, mengguncang pasak gunung karena keganasannya. Umayyah menyiksa Bilal radhiyallahu ‘anhu dengan penyiksaan yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun di dunia, ia betul-betul mendera Bilal dengan sekuat tenaga, sedangkan Bilal merasakan ketenangan hati dengan cahaya rohani keimanan, dia merasakan adzab seakan kenikmatan yang jarang didapatkan dalam agama dan keimanannya, dia menganggap manis pahitnya empedu di jalan Allah untuk menjaga iman. Berikut ini sebagai fakta dan gambaran dari penyiksaan yang pedih itu.
Umayyah memerintahkan para pembantunya untuk mengeluarkan Bilal di terik matahari, di mana padang pasir Mekah menjadi bara api yang membinasakan, mereka menyungkurkan Bilal di atas kepanasan yang membakar dalam keadaan telanjang, kemudian mereka mendatangkan batu panas ibarat bara api dan meletakkan di atas dadanya, lantas Umayyah berkata pada Bilal, “Demi Allah, kau akan tetap seperti ini hingga meninggalkan agama Muhammad.” Bilal berkata, “Ahad.. Ahad.”
Kalimat Ahad seakan petir yang menyambar Umayyah, kemudian kemarahan menguasainya dan menumpahkan pemukulan kepada Bilal juga cacian. Hal itu tidak menambah seruan Bilal melainkan kembali berkata, “Ahad, Ahad.”
Mereka, para saksi mata melihat sebagian pemandangan yang dialami Bilal radhiyallahu ‘anhu, mereka menukil gambar sidik jari Umayyah yang zhalim dalam kumpulan catatan kehinaannya.
Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan pemandangan yang dilihatnya di Mekah. Dia melihat Umayyah bin Khalaf hampir meledak karena menahan amarahnya keteguhan Bilal. Dia berkata:
“Aku melewati Bilal sedang disiksa di terik matahari, seandainya sepotong daging diletakkan, niscaya akan matang. Bilal berkata, ‘Aku kafir (mengingkari) Laata dan Uzza. Sedangkan Umayyah marah kepadanya dengan menambah siksaaan dan Bilal pun menerimanya. Umayyah pergi dengan alat pencukurnya sedangkan Bilal pingsan kemudian sadar.”
Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kejadian lain yang menampakkan keteguhan Bilal dan kepahlawanannya, kebodohan Umayyah dan kekerasannya. Dia berkata, “Aku melakukan umrah, lalu aku melihat Bilal diikat dengan tali panjang yang dibentangkan anak-anak, ‘Amr bin Fuhairah bersamanya sementara Bilal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ahad… Ahad, aku kufur terhadap Laata dan Uzza, Hubal, Isaf, Nailah, serta Buwanah.’ Maka Umayyah menyeretnya ke padang pasir.”
Dari Mujahid rahimahullah dia berkata, “Mereka menjadikan tali di leher Bilal, dan memerintahkan anak-anak mereka agar menjepitnya di antara dua pohon gunungnya, lantas mereka pun melakukannya, hingga tali itu membekas di lehernya sedangkan Bilal berkat, ‘Ahad, Ahad..”
Dalam pembicaraan tentang kalangan orang-orang tertindas dari kaum muslimin, ‘Urwah bin Zubeir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan
“Bilal termasuk orang yang teraniaya dari kalangan kaum mukminin, dia disiksa saat memeluk Islam agar kembali pada keyakinannya. Bilal tidak mengucapkan kalimat yang mereka inginkan. Yang menyiksanya adalah Umayyah bin Khalaf al-Jumahiy.”

Apakah Bilal Memenuhi Kemauan Umayyah?

Demikianlah gambaran penyiksaan Bilal, lantas terlintas dalam benak pertanyaan berikut, “Apakah Bilal memenuhi kemauan Umayyah setealh itu? Dan apakah keyakinannya melemah –meski sedikit- karena menanggung siksaan?”
Berbagai referensi menyebutkan bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu tidak menyetujui Umayyah –meski dengan kekerasannya-, tidak satu huruf pun yang membuat cacat keislamannya. Jiwanya ringan dalam memeluk agama Allah, demikian pula dimudahkan untuk kaumnya. Saat siksaan makin berat, semboyannya tetap berkumandang yaitu, “Ahad, Ahad.”
Datanglah kepada Bilal, sekelompok orang-orang kafir membujuknya dengan kedustaan, menuntunnya untuk menirukan apa yang dikatakan orang-orang di belakangnya secara serempak, maka dia menjawab mereka dengan ejekan yang mengenai tempat mematikan dari mereka, “Sesungguhnya lidahku tidak bisa mengucapkan apa yang kalian katakan dan tidak sanggup membaguskannya.” Maka beterbanganlah mimpi-mimpi mereka yang hina, berantakanlah cita harapan mereka yang buruk di depan kalimat Bilal radhiyallahu ‘anhu, lalu mereka mencari jalan lain dalam memusuhinya.
Diriwayatkan bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu menceritakan tentang kejelekan orang-orang musyrik dan kerasnya hati mereka, “Mereka membuatku dahaga sehari semalam, kemudian mereka mengeluarkanku dan menyiksaku di padang pasir saat terik panas matahari!”
Bilal tetap tidak menghiraukan apa yang diperbuat oleh pemimpin durjana yang melampaui batas lagi berdosa, Si Umayyah bin Khalaf. Umayyah sang musuh Allah ini, tidak menghiraukan rintihan Bilal, karena sakitnya penyiksaan. Dia tidak bosan-bosannya menyiksa Bilal, bahkan motivasi kejelekan yang ada padanya semakn tambah berkobar setiap kali Bilal bersabar menahan penyiksaan itu.
Al-Qasthalani rahimahullah berkata mengomentari sikap mulia ini, “Maka lihatlah apa yang diperbuat terhadap Bilal saat dipaksa untuk kafir sedang ia berkata, ‘Ahad Ahad.’ Lantas berbuarlah pedihnya siksaan dengan lezatnya keimanan, hal ini sebagaimana terjadi juga saat kematiannya. Istrinya berkata, ‘Oh, alangkah sedihnya!’ Dan Bilal berkata, ‘Oh, alangkah senangnya.’ Dia mencampur antara pedihnya detik-detik kematian (sakaratul maut) dengan manisnya pertemuan.”
Alangkah indahnya apa yang diungkapkan Abu Muhammad asy-Syuqrathisi saat menggambarkan peristiwa ini dalam bentuk syair:
“Bilal menerima siksaan dari Umayyah, dia bersabar dengan keadaan paling mulia. Saat mereka menyiksanya dengan tekanan, sedang ia dalam keadaan terhimpit, tetap teguh. Mereka melemparkannya di padang pasir sedangkan mereka menindihnya dengan batu yang amat berat tersusun tinggi. Dan dia mentauhidkan Allah dengan keikhlasan yang tampak dari pengagungannya seperti bekas hujan gerimis di atas tanah. Jika telah tersayat punggung Wali Allah dari belaakng maka telah terbelah hati musuh Allah dari depan.”

Abu Bakar, Bilal, dan Umayyah

Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melewati Bilal radhiyallahu ‘anhu yang sedang disiksa dengan penyiksaan yang pedih. Dahulunya, rumah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di Bani Jumah, maka beliau berkata kepada Umayyah bin Khalaf, “Wahai Abu Ali –kunyah (panggilan) Umayyah- tidakkah kau takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara lelaki miskin ini, sampai kapan.. sampai kapan?!”
Berkatalah kepala orang kafir dan orang terlaknat penyembah patung berhala, Umayyah kepada Abu Bakar, “Engkaulah yang merusaknya, maka selamatkanlah dia sebisamu, hingga dia terbebas dari keadaannya sekarang.”
Abu Bakar mengambil peluang terbuka yang datang lantas berkata, “Akan kulakukan, aku memiliki anak kecil hitam, lebih tangguh dan lebih kuat darinya, dia beragama sepertimu kita saling tukar menukar.”
Umayyah berkata, “Kuterima wahai Abu Bakar.”
Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dia untukmu.” Seraya memberikan anak kecil yang hitam itu dan beliau mengambil Bilal, lantas seketika itu juga beliau membebaskannya, kemudian Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, menjadi muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebuah kebaikan di antara banyak kebaikan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, adapun yang terlaknat Umayyah bin Khalaf, telah menjadi salah seorang dari mereka yang berhak menerima siksaan dari Yang Maha Perkasa Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam hal Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Bilal radhiyallahu ‘anhu. Az-Zauzani rahimahullah berkata dalam bait-bait yang dimuat oleh Yaqut dalam Mu’jam al-Udaba:
“Abu Bakar menghibahkan untuk Allah hartanya. Sejak dahulu lisannya amat fasih berkata-kata. Telah menolong Nabi dengan segala kebaikan dan memberikan simpanannya untuk si Bilal. Sekiranya lautan berkeyakinan dapat menyaingi kebaikannya. Niscaya Allah tidak akan mengaruniayi bilal.”

Dalam Permusuhan

Umayyah bin Khalaf merasa bahwa dirinya gagal dalam usahanya yang keras lagi penuh dosa, untuk menganiaya pemimpin para pahlawan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, dia melihat jalan di depannya terbuka untuknya dalam melakukan penyiksaan. Adapun apa tindak kriminal terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhu, Umayyah melihat dirinya cenderung bergabung dengan orang-orang yang jahat Quraisy untuk meniti jalan bersama mereka, yang memalingkan manusia dari mengingat Allah dan kebenaran, menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwahnya, mengolok-oloknya dan menjatuhkan martabatnya.
Umayyah mulai merekayasa cara baru dalam keikutsertaannya bersama kelompok orang-orang yang berbuat dosa. Dalam suatu forum yang dikumpulkan oleh Al-Walid bin Mughirah dan Abu Jahal bin Hisyam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu di hadapan mereka, maka mereka mengumpat dan mengejeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasa sesak dengan perbuatan mereka.
Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat sebagai penghibur bagi Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menggertak mereka serta memberi peringatan terhadap kejelekan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.” (QS. Al-An’am: 10)
Umayyah dan kaum musyrikin yang lain mulai berfirkir mengenai cara untuk menjebak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengakui apa yang mereka yakini, apakah mereka berhasil mewujudkan hal itu?

Tipu Daya yang Jahat Dalam Bentuk Tawaran

Umayyah dan kaum musyrikin memetakan taktik renanca di benak mereka, yang diperkirakan akan meraih kemenangan dalam dialog mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka berdiri dan pergi menuju Ka’bah. Mereka mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang thawaf. Kemudian Umayyah dan beberapa orang yang bersamanhya menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata padanya, “Wahai Muhammad kemarilah kami akan menyembah apa yang kau sembah dan kau menyembah apa yang kami sembah, dengan demikian kita bekerja sama dalam perkara ini. Jika yang engkau sembah lebih baik dari yang kami sembah berarti kami telah mengambil sebagian faedah darinya. Dan jika yang kami sembah lebih baik dari yang kau sembah berarti engkau telah mengambil sebagian kebalikan darinya.”
Penawaran ini –sebagaimana anda lihat- jelek lagi penuh dengan tipu daya, menunjukkan tipu daya yang luas cakupannya, sekaligus menunjukkan kecerdasan dan ketajaman fikiran yang selama ini mereka nikmati. Akan tetapi keyakinan yang diwarisi dan angan-angan yang semua telah menutupi akal mereka untuk pasrah terhadap kebenaran dan tunduk kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan jalan tipuan yang berliku-liku ini, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari apa yang mereka katakan. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan:
Katakanlah: Hai orang-orang kafir Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS. Al-Kafirun: 1-2)
Da n menandai mereka dengan berbagai ciri di antaranya kufur, tidak mengetahui kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan pula:
“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’ Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (QS. Az-Zumar: 64-66)
Muhammad bin Sa’ad rahimahullah berkata dalam Ath-Thabaqat, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat menampakkan Islam dan perkaranya tersebar di Mekah, orang-orang Quraisy marah karena itu. Tampak dari mereka kedengkian dari kejahatan, kaum lelaki dari mereka menampakkan permusuhan sedang yang lainnya menyembunyikan. Orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka, yang mengundang permusuhan dan perdebatan adalah: Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan lainnya.”
Para pembesar itu menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara fisik langsung, pada suatu hari si Bejat Uqbah bin Mu’ith –semoga dilaknat Allah- melempar kotoran di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau sujud di Masjidil Haram. Maka Nabi mendoakan buruk kepada mereka seraya berkata, “Ya Allah datangkanlah siksa untuk kafir Quraisy.” Dan beliau menyebut, di antara mereka Umayyah bin Khalaf. Mereka semua menemui kebinasaan saat perang Badr.

Menyakiti Keluarga Dekatnya

Umayyah tidak hanya mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan gangguannya juga menimpa kerabatnya dari Bani Jum’ah yang mengumumkan keislamannya pada periode awal. Dia mengganggu anak pamannya Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu karena keislamannya, sehingga hal itu menyebabkan Utsman hijrah ke Habasyah dan mendapat kehidupan yang tenang di sisi tetangga yang baik. Di Habasyah Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu merasa terasing pada awalnya, maka dia berkata mencela Umayyah dan mengingatkan kejelekan yang dilakukannya dalam bait syair:
“Akankah engkau mengeluarkanku dari Mekah karena keislamanku. Dan menempatkanku dalam istana putih (Habasyah) yang kau benci. Engkau memerangi kaum yang mulia lagi perkasa dan mencelakakan kaum yang pernah dipinta bantuan olehmu. Engkau akan mengetahui suatu hari jika mendapat musibah dan rakyat jelata menyelamatkanmu tanpa mempeduikan apa yang pernah kau perbuat.”
Apakah kalimat-kalimat pengaduan mengetuk telinga Umayyah atau menyentuh hatinya?
Dia telah berpaling dari kekerabatan dan teman dekat, juga setiap jalan yang ditempuhnya untuk mengangkat Laata dan Uzza serta Manat. Maka dia tercatat seabgai golongan orang yang sengsara –semoga kita dijauhkan oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala darinya- dia pun termasuk orang yang disebut dalam firman Allah:
Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

 

Kisah Murtad dari Islam karena Sombong

Semua orang mengharapkan hidayah…, namun rasa sombongnya menghalanginya untuk bisa merangkulnya. Tak terkecuali sombong karena penampilan. Dan saya rasa, banyak wanita enggan berjilbab dan menutup aurat adalah contoh yang paling layak untuk ini. Meskipun tidak tidak dipungkiri, lelaki juga memiliki sikap yang sama.
Tersebutlah seorang raja, Jabalah bin Aiham. Pengusaha kerajaan Ghassan.. Sangat tertarik dengan islam. Diapun menulis surat kepada Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu meminta izin untuk datang ke Madinah, memeluk islam. Spontan Umar dan kaum muslimin sangat senang dengan maksud si Raja yang dulunya nasrani ini. Beliaupun menulis balasan, “Silahkan datang untuk bergabung dengan kami. Kita memiliki dan kewajiban yang sama.” Datanglah Jabalah bersama 500 penunggang kuda dari pasukannya. Ketika sudah dekat kita madinah, dia memakai baju yang dipintal dengan emas.., dan memakai mahkota kepala dengan manik-manik permata.
Sementara pasukannya memakai baju yang sangat indah. Masuklah Jabalah bersama pasukannya ke kota Madinah. Tidak ada satupun penduduk Madinah, kecuali semua mata mereka terbelalak melihat raja Ghassan. Sampai anak-anak dan wanita. Setelah sampai di rumah Umar, beliau menyambutnya dan mengajaknya duduk mendekat…
Sang raja memang benar masuk islam.., hingga akhirnya datang musim haji.
Pada musim haji kali ini, Umar melaksanakan haji, demikian pula Jabalah. Di sinilah mulai muncul masalah. Ketika thawaf, tiba-tiba kain ihram Jabalah terinjak seorang yang fakir dari suku Fazarah. Melihat hal itu, Jabalah langsung marah besar dan menempeleng si fakir, hingga hidungnya terluka. Si fakirpun marah, dan dia hanya bisa mengadu kepada Umar bin Khatab, sang Khalifah yang adil nan bijaksana.
Setelah Jabalah menghadap Umar, terjadilah dialog,
“Apa sebabnya kamu menampar saudaramu ketika tahawaf?, wahai Jabalah.., sampai hidungnya terluka.” Tanya Amirul Mukminin.
“Dia menginjak kain ihramku. Andaikan bukan karena menghormati Ka’bah, ingin kupenggal kepalanya.” Jawab si raja.
“Nah, sekarang kamu sudah mengakui. Ada dua pilihan, bayar denda kepadanya yang membuat dia merelakan kesalahanmu atau qishas, dan aku akan menampar wajahmu.” Umar memutuskan.
“Saya diqishas?? … Padahal saya raja dan dia jongos!!” Jabalah keheranan.
“Wahai Jabalah, Sesungguhnya islam menyamakan statusmu dengan dia. Tidak ada yang membuat lebih mulia selain taqwa.” Jawab Umar.
“Kalau begitu, saya akan balik nasrani.” Tukas Jabalah.
“Siapa yang mengganti agamanya (murtad) maka dia dibunuh… jika kamu kembali jadi nasrani, aku akan penggal kepalamu.” Jawab Umar tegas.
“Berikan aku waktu sampai besok, wahai amirul mukminin.” Pinta Jabalah
“Ya, kami tunggu.” Jawab Umar.
Malam harinya, Jabalah dan beberapa tentaranya keluar dari Mekah.., dia menuju Konstatinopel dan kembali nasrani.
Setelah berlalu waktu yang lama dia tinggal di negeri nasrani, kesempatan menikmati lezatnya dunia mulai berkurang.. seiring dengan berkurangnya kemampuan indera manusia untuk menikmati dunia.
Tinggallah kerugian. Jabalah masih mengingat kenangan indah ketika menjadi muslim. Dia ingat betapa lezatnya shalat dan puasa bersama kaum muslimin.
Suatu ketika dia melantunkan bait syair sambil menangis,
Orang terhormat menjadi nasrani karena tamparan *** Andaikan dia bersabar, itu tidak membahayakan dirinya
Aku terdorong melakukannya karena kebanggaan dan kehormatan *** yang saat ini kutukar dengan mata yang buta
Andaikan ibuku tidak melahirkanku, duh andaikan aku *** kembali pada keputusan Umar
Duh andaikan aku memperhatikan si fakir *** dan aku berjalan di suku Rabi’ah dan Mudhor
Andaikan aku di syam, dengan hidup yang lebih sengsara *** saya duduk bersama rakyatku, dengan tuli dan buta.
Jabalah tak kuasa untuk kembali masuk islam. Dia tetap masuk nasrani sampai mati.. mati di atas kekufuran karena sikap sombongnya untuk tunduk pada aturan Tuhan semesta alam.
(Sumber: Syabakah Al-MiSykah Al-Islamiyah

Kisah Kaum Durhaka: Sufyan bin Khalid

–  Termasuk aktor paling gencar dan menonjol melakukan perbuatan dosa, kejahatan, dan pengrusakan.
–  Penentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
–  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Unais kepadanya lantas ia membunuhnya.
Mereka tidak terikat melainkan dengan tali kefajiran, menumpahkan darah, merampas harta, merusak kehormatan, berperilaku jelek dan pemilik maksud dan tujuan-tujuan yang paling buruk.
Siapakah Mereka?
Agar semakin jelas gambaran kelompok yang jahat lagi buruk dari Hudzail, Lihyan, dan orang-orang perusak dari kalangan Arab ini, maka dengarkanlah perkataan penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang menggambarkan mereka:
Seandainya keburukan diciptakan sebagai manusia yang mengajak mereka bicara niscaya ia datang menjadi orang terbaik di antara mereka. Terlihat tanda keburukan di mata mereka bagaikan tanda karena tapak keledai betina. Kuburan menangis apabila tidak ada yang mati dari mereka hingga ia berteriak pada orang yang ada di bumi saat kiamat. Sebagaimana landak malu apabila ia dikagetkan, ia sembunyi di siang hari dan tampak berjalan saat malam hari.
Adapun mengenai bejatnya kekufuran, kecintaan mereka kepada perkara yang jelek, dan kelancangan mereka melakukan kehinaan dan kekejian tanpa malu, tersebut bahwa Hudzail meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mereka akan memeluk Isam, agar dihalalkan bagi mereka berbuat zina, mereka tidak melihat perkara zina sebagai perkara yang keji, perbuatan jelek mereka menutupi amalan mereka. Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata dalam mencela dan mencerca mereka karena hal itu:
Hudzail meminta izin melakukan perbuatan keji kepada Rasulullah. Dia sesat dan menyimpang dengan permintaannya itu. Mereka meminta kepada Rasul apa yang tidak akan Beliau berikan. Hingga mati dan mereka adalah orang-orang Arab yang tercela. Selamanya tidak akan pernah engkau lihat Hudzail seorang penyeru yang menyeru kehormatan jauh dari hal negatif. Mereka mengharapkan kecelakaan dari kekejian itu, mereka meminta sesuatu yang diharamkan dalam Alquran.
Kejelekan serta berbagai kerendahan Sufyan bin Khalid aI-Hudzali, dijadikan umpan untuk menarik setiap orang kafir yang menentang, yang sangat enggan melakukan kebajikan, dan melanggar batas. Dia memilih orang-orang pinggiran dari Bani Lihyan dan yang lainnya. Alangkah bagusnya perkataan Hassan:
Celakalah bagi Lihyan di setiap keadaan Mereka disebutkan dalam Alquran sebagai penyebab kerusakan.
Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk mendatangi orang yang kaku lagi kasar dan bejat ini dengan tiba-tiba, diluar perhitungan dan rencana mereka, agar Beliau menumpasnya lebih awal. Lalu apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?!

Orang yang Mengorbankan Dirinya dengan Berani

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpikir mengenai sarana yang dapat membinasakan orang yang sombong itu, yakni Sufyan bin Khalid. Hal ini dilakukan sebelum bertambah kesombongannya, menyebar bahayanya, dan meluas anggotanya yang terdiri dari para setan yang berdosa di kalangan Arab dan yang terkucil dari mereka, maka Beliau mendapati bahwa pahlawan yang berani adalah Abdullah bin Unais al-Anshari al-Juhani, dialah orang yang mengemban pengorbanan amat besar dalam sejarah Anshar dan dialah yang menghabisi Sufyan bin Khalid al-Hudzali.
Abdullah bin Unais termasuk orang yang langka dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keberanian, kepahlawanan, dan ketangkasan. Dia tidak takut mati dalam menghadapi musuh.
Abdullah bin Unais tergolong orang yang dikenal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keberanian dan kepemimpinannya di garis depan, pahlawan juga Sang Pembela.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya tatkala Beliau melihat tidak seorang pun dari para pahlawan di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhu yang bisa pantas mengembannya selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling tahu tentang keadaan juga tingkat kepahlawanan para sahabatnya, demikian pula paling tahu akan keberanian mereka menghadapi maut di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu sebagai bukti dalam memenuhi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Beliau menyeru mereka kepada kehidupan yang kekal selamanya.
Bagaimana Ciri-Cirinya Wahai Rasulullah?
Abdullah bin Unais tidak ragu dalam menjalankan tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi dia tidak mengetahui lelaki yang dimaksud, yaitu Sufyan bin Khalid al-Hudzali. Maka dia bertanya dengan penuh etika dan pengagungan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana ciri-cirinya Wahai Rasulullah?”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apabila melihatnya, engkau takut kepadanya dan berusaha untuk menghindarinya, kau dapati dia mengagetkan dan mengingatkanmu akan setan.”
Sifat apa ini?! Benar-benar sifat yang menakutkan dan menciutkan, mencabut jantung dari sela-sela tulang rusuk orang yang mendengarnya. Membuat takut pahlawan paling berani dan paling cekatan untuk maju menghadapi si Kafir yang menyerupai setan itu.
Tatkala sang pembela, Abdullah bin Unais bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ciri Sufyan bin Khalid, Beliau pun menggambarkannya dengan benar, selaksa setan yang amat jahat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensifati seseorang yang memusuhi Islam seperti Beliau mensifatinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abdullah bin Unais untuk membunuh Sufyan bin Khalid –semoga Allah menghinakannya- secara rahasia, sehingga berita itu tidak terdengar oleh Sufyan yang menjadikan dia bersiap-siap, akhirnya kesempatan kaum muslimin untuk membunuhnya menjadi lenyap.
Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu seorang pahlawan pemberani, hatinya lapang, tidak takut mati. Dia tidak takut bertemu musuh di medan pertempuran atau peperangan. Karena itulah pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijatuhkan padanya, Beliau memberi tahu ciri Sufyan dengan rinci seraya memberi peringatan kepadanya:
“Apabila engkau melihatnya engkau takut kepadanya dan berusaha menghindarinya, engkau mendapatinya me-ngagetkan dan mengingatkanmu akan setan.”
Abdullah bin Unais berkata dengan penuh etika dan keberanian, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah kabur sekali pun.” Diriwayatkan pula, “Wahai Rasulullah, demi yang mengutusmu dengan hak, aku tidak takut pada sesuatu pun.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “ltulah tanda antara engkau dengannya.” Untuk menambah peringatan sang pahlawan pemberani Abdullah bin Unais terhadapnya, memompa kemauan kuatnya serta menanamkan dalam dirinya benih keberanian.
Gambaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pribadi yang sombong dan berdosa ini menunjukkan bahwa dia telah sampai pada penampilan yang amat jelek dan buram, tidak enak dipandang, kepribadian yang ganas, sifat yang buruk, jiwa yang rendah hingga sejajar dengan pemimpin para setan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai contoh yang paling jelek dan pemandangan paling buruk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempelkan dosa, kejelekan dan peman-dangan yang buruk pada Sufyan bin Khalid. Suatu hal yang menjadikan orang yang melihatnya takut, menggetarkan kaum lelaki yang paling berani dan paling agresif.
Maha Benar Allah dan Rasul-Nya
Setelah Abdullah bin Unais mengetahui tugasnya dan mempelajari keadaan musuh yang akan dihadapinya, dia keluar mencarinya sendirian. Tidak seorangpun bersamanya melainkan pedang. Dia tidak mengetahui ciri si Jahat Sufyan bin Khalid melainkan apa yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abdullah berjalan menuju sasarannya, dia bertanya pada orang yang ditemuinya di jalan tentang Sufyan bin Khalid agar dia bertemu dengannya. Tatkala Abdullah sampai di tempat tinggal Sufyan, yang mengumpulkan kaum jahat lagi fakir di daerah ‘Uranah. Abdullah berjumpa dengan sekumpulan perusak lagi jahat. Dia mendapati gerombolan orang berjalan di belakang Sufyan dan pengikutnya-pengikutnya dari para durjana.
Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata tatkala pandangannya tertuju pada si Bejat Sufyan bin Khalid al-Hudzali:
Tatkala aku melihatnya diriku merasa ciut, aku teringat dengan ciri yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, aku merasakan perasaan gemetar seperti dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keringat mengucur.
Aku bergumam, “Maha benar Allah dan RasuI-Nya.” Lantas aku menemuinya, aku takut terjadi pertarungan antara diriku dengan dirinya hingga melalaikanku dari shalat. Maka aku melakukan shalat seraya berjalan menuju ke tempatnya dengan isyarat kepala yang menandakan ruku’ dan sujud? Tatkala aku dekat darinya dia berkata, “Dari mana lelaki ini?”
Aku menjawab, “Dari Khuza’ah, aku mendengar engkau mengumpulkan orang untuk memusuhi Muhammad, aku mendatangimu untuk bergabung.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan kepada Abdullah bin Unais, “Nisbatkanlah dirimu kepada Khuza’ah.”
Ibnu Nubaih berkata dengan sikap arogan dan sombong, “Benar, sesungguhnya dia sedang mengumpulkan orang untuknya.”
Abdullah bin Unais berkata, “Aku berjalan bersamanya, aku mengajaknya bicara dan dia terkesan dengan pembicaraanku serta aku membacakan syair untuknya.” Abdullah bin Unais terhitung salah seorang penyair di kalangan sahabat.
Perlu diingat bahwa Abdullah bin Unais telah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkata dengan syair dan Taurat serta dialek pembicaraan yang diterima dan menenangkan si Fajir yang sombong Sufyan bin Khalid hingga dia tidak meragukan Abdullah, atau dia akan merasa ragu dan sangsi akan kedatangannya. Sehingga dia dapat menyakinkan lelaki jahat itu bahwa dia mendatanginya untuk bergabung dengan kelom-poknya yang ganas.
Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata saat sedang memaparkan pembicaraannya kepada Sufyan agar pujiannya diterima,
“Sungguh aneh apa yang dilakukan Muhammad dengan agama baru ini, dia menyelisihi nenek moyang dan membodohkan pe-mikiran mereka.”
Sufyan berkata memuji kalimat Abdullah bin Unais dan dia telah tersanjung, “Sesungguhnya dia –maksudnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak bertemu dengan orang yang selevel denganku.”
Inilah hakekat yang menunjukkan mukjizat kenabian, kalimat ini diucapkan oleh orang yang sombong lagi hina, bahwa tidak ada yang menyerupainya, orang yang sangat rendah, hina dan penuh dengan dosa. Sungguh benar Rasulullah, dia menyifatinya persis dengan fakta.

Bagaimana Terbunuhnya Thaghut Ini

Bukan hal yang gampang bagi Abdullah bin Unais untuk membunuh si Jahat, melainkan dengan menghadirkan keberanian dan hikmah. Abdullah bin Unais menggambarkan Sufyan bin Khalid dengan mengatakan: Tatkala dia berjalan dengan tongkat seolah-olah dia mengguncang bumi.
Kalau begitu, hikmah disini menuntut ketenangan dan sandiwara unik. Abdullah berjalan bersama lelaki jahat yang kesetanan ini, langkahnya seakan mengguncang bumi dikarenakan berat pijakan, juga sifat sombongnya, Abdullah berjalan bersamanya sambil bercakap-cakap hingga sampai ke tempat persembunyian, kawan-kawannya berpencar ke rumah yang dekat disekelilingnya, mereka mengelilinginya. Saat itu dia bet-kata kepada Abdullah bin Unais, “Kemarilah wahai saudaraku dari Khuza’ah.”
Aku mendekatinya, dia menyodorkan padaku gelas agar aku meminum susu. Lantas aku meminumnya kemudian aku kembalikan kepadanya, maka dia mengisinya seperti mengisi unta. Kemudian dia berkata, “Duduklah.” Aku pun duduk bersamanya hingga malam tiba untuk menyelimuti kehidupan dengan kegelapan, sunyilah kebisingan orang-orang jahat disekitarnya dan mereka pun tidur. Aku pun menunggu hingga dia tertidur nyenyak, kemudian aku pun. mengambil kesempatan saat dia lalai dengan mengayunkan pedang, lantas aku membunuhnya dan kubawa kepalanya dan kutinggalkan para wanitanya menangis.
Kemudian aku menuju ke gunung dan mendakinya, lantas aku masuk ke sebuah gua. Orang-orang berkuda mencari sedang aku bersembunyi di gua, satang laba-laba menutupi gua. Seseorang datang di mulut goa dengan membawa kendi yang besar dia memegang kedua sandalnya –sedangkan aku tidak beralas kaki-, maka orang itu meletakkan sandal dan kendinya kemudian duduk di pintunya, lantas berkata pada teman-temannya, “Di gua tidak ada seorang pun, selanjutnya mereka bubar pulang.”
Aku merasa sangat kehausan, aku keluar dan meminum apa yang di kendi lalu mengambil kedua sandal dan memakainya, aku pun berjalan di malam hari dan bersembunyi di slang hari hingga sampai ke Madinah. Maka kudapati Rasulullah di Masjid, tatkala Beliau melihatku Beliau menyapa, “Alangkah beruntungnya wajahmu.”
Aku menimpali, “Sungguh beruntung wajahmu wahai Rasulullah, aku telah membunuhnya.”
Beliau menjawab, “Engkau benar.”
Kemudian kuletakkan kepala lelaki jelek itu di depan Rasulullah dan kuceritakan apa yang kualami. Beliau menjulurkan tongkat itu kepadaku seraya bersabda, “Pakailah tongkat ini di surga, sesungguhnya orang-orang yang memakai tongkat di surga amat sedikit.”
Tongkat barakah ini selalu dipegang Abdullah bin Unais hingga tatkala ia meninggal tahun 54 H, dia berwasiat agar tongkatnya disisipkan di kain kafannya, maka mereka pun melakukannya dan ia dikubur bersamanya.
Terbunuhnya Sufyan bin Khalid bin Nubaih di tahun keempat Hijriah. Musa bin ‘Uqbah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan para sahabatnya mengenai Abdullah bin Unais yang membunuh Sufyan bin Khalid, sebelum kedatangan Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu. Ini menunjukkan kenabiannya, berkenaan dengan hal ini Abdullah bin Unais telah mengarang syair berikut:
Aku tinggalkan anak sapi seperti anak unta, sedangkan di sekitarnya orang-orang berteriak sambil menyobek saku berkeping-keping. Aku menebasnya sedangkan kambing di belakangku dan di belakangnya, dengan pedang Muhammad yang lebih putih dari cairan besi. Dia menebas kepala seakan-akan kobaran api yang menyala dikarenakan ada yang menyulutnya. Aku berkata kepadanya, Bunuhlah ia dengan sabetan orang yang agung, bersih lurus di atas agama Nabi Muhammad. Kebiasaanku apabila mendapati Nabi mengeluh tentang orang kafir, aku bersegera mendahuluinya dengan peang dan tangan.
Demikianlah Abdullah bin Unais menghabisi pemimpin orang kafir, Sufyan bin Khalid aI-Hudzali. Dia menumpas kelompok Sufyan bin Khalid –semoga dilaknat Allah- yang berhak mendapat Neraka karena dosanya dan ia merupakan seburuk-buruk tempat, walhasil Allah telah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan dengan mereka.
Dia Masuk Neraka dan Kekal di Dalamnya
Sufyan bin Khalid bin Nabih aI-Hudzali sang lelaki yang penuh dosa termasuk salah seorang yang jahat hidup di masa kenabian, yang melarang, memusuhi, merintangi dan menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Mereka menyembunyikan depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bekerja untuk meruntuhkan dakwah Islam dengan berbagai cara, Allah menghinakan mereka, mencelakakan dan melaknat mereka serta menjadikan neraka tempat kembali mereka, kekal di dalamnya sebagai imbalan atas perbuatan tangan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan balasan bagi orang yang berusaha berbuat kerusakan di muka bumi atau menjadi penyebab kerusakan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasuI-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik [memotong tangan kanan dan kaki kiri, dan kalau melakukan lagi, maka dipotong tangan kiri dan kaki kahan. Atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka peroleh siksaan yang besar.” (QS. AI-Maa’idah: 33)
Sufyan bin Khalid aI-Hudzali termasuk salah seorang .ang memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan permusuhannya terhadap Rasul-Nya yang mulia, tidak memeluk Islam dan tidak menerima agama yang benar. Akan tetapi dia mengumpulkan orang-orang fasiq disekitarnya, orang-orang murtad serta para penentang yang seakan dapat meruntuhkan gunung. Mereka berusaha merampas jiwa, darah dan harta kaum muslimin di Madinah sedapat mungkin jika ada jalan.
Sufyan merupakan pemimpin mereka dan pelopor per-buatan itu, maka dia berhak mendapat kehinaan di dunia, adapun di akhirat, tempat kembalinya adalah Neraka yang di dalamnya dia tidak hidup untuk bernafas lega dan tidak pula mati untuk beristirahat dari siksa.
Dalam Al-Qur’an aI-Karim terdapat berita tentang masuk-nya orang yang ingkar kepada Allah dan RasuI-Nya ke dalam Neraka seperti Sufyan bin Khalid yang melampaui batas dalam kemaksiatannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasuI-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisaa': 14)
Lelaki berdosa Sufyan bin Khalid ini telah menempuh jalan orang-orang yang berbuat kejahatan, kezhaliman, keku-furan dan kemaksiatan. Kesalahannya telah mengubumya. Dia tergolong penghuni Neraka yang kekal, didalamnya bersama orang-orang yang kekal, yaitu mereka patut berhak menerima kalimat Rabb-mu yang benar lagi adil.
Di dalam hadits Nabawi yang mulia juga terdapat keterangan mengenai adzab bagi orang yang dibunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau Nabi menyuruh orang untuk membunuhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang yang dibunuh Nabi atau Nabi menyuruhnya untuk dibunuh dizamannya, dia akan diadzab sejak terbunuh, hingga ditiup sangkakala.”
Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M
Artikel www.KisahMuslim.com
Iblis Mengaku Tuhan
Tersebutlah seorang ulama yang bernama Ahmad bin Nazzar. Kunyah beliau Abu Maisarah, Al-Qoiruwani. Salah seorang ulama bermadzhab Maliki. Beliau dikenal sebagai Faqihul Maghrib (ahli fikih daerah Maroko). Sosok yang dikenal doanya mustajab. Seorang ulama yang seimbang antara ilmu dan amal. Hampir setiap malam beliau mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat tahajud di masjidnya.
Beliau pernah diminta oleh Gubernur Al-Manshur bin Ismail untuk menjabat sebagai qadhi untuk daerah Qoiruwan, namun beliau tidak bersedia menerimanya. Beliau wafat di tahun 338 H.
Ada satu kejadian menarik tentang beliau. Di sela beliau sedang tahajud, tiba-tiba muncul cahaya sangat terang dari tembok masjid. Cahaya itu mengatakan dengan lantang,
تملا من وجهي، فأنا ربك
“Engkau telah memenuhi wajahku, akulah tuhanmu.”
Apa yang bisa kita bayangkan ketika kita mengalami kejadian semacam ini? Ya, kita sepakat akan merasa sangat bangga. Kita akan merasa telah mencapai puncak beribadah. “Allah telah menampakkan dirinya, berarti saya sudah mencapai derajat hakekat.” Atau kita akan meminta banyak hal, mumpung ketemu langsung dengan Allah, “Ya Allah, berikan aku banyak harta, rumah mewah, mobil mewah.” “Ya Allah, aku minta karamah, agar bisa menolong hamba-Mu yang sakit.” “Ya, Allah jadikan dia pasangan hidupku.” “Ya Allah, luaskan rizkiku, mudahkan urusanku, mudahkan aku tuk meraih cita-citaku.” Dan seabreg permintaan lainnya, yang menunjukkan betapa tamaknya kita dengan dunia.
Hampir bisa dipastikan, orang yang mengalami kejadian semacam ini, esok harinya akan segera membuka praktek pengobatan alternatif, suwuk. Karena merasa punya karamah.
Tapi tidak demikian yang dilakukan sang imam. Ulama yang mulia ini memahami hal yang berbeda. Yang mendapat petunjuk Allah melalui ilmu agama yang beliau pahami. Apa yang beliau lakukan?
Ternyata Imam Ahmad bin Nazzar ini meludahi cahaya yang menampakkan wajah ini, dan mengatakan,
اذهب يا ملعون
“Pergilah wahai makhluk terlaknat.”
Tiba-tiba cahaya itu padam.
Beliau memahami ini tipuan setan. Agar orang menjadi ujub dalam beribadah. Selanjutnya dia mengaku telah mencapai puncak nirwana ibadah, derajat makrifat atau hakekat. Selanjutnya dia meninggalkan ibadah sama sekali.
(Siyar A’lam Nubala: 15/396