Rabu, 27 Agustus 2014

Biografi Imam Malik

Biografi Imam Malik 3
Dalam perjalanan sejarah Islam, kodifikasi hadits merupakan salah satu bagian terpenting yang berfungsi menjaga kemurnian agama. Selama 1400 tahun lebih, para ulama mempelajari teks hadits, berusaha mengenali orang-orang yang meriwayatkannya, menetapkan status keabsahan hadits, dan kemudian menyebarkannya ke tengah umat dengan lisan mereka atau melalui usaha pembukuan. Sebuah usaha yang tidak sederhana yang membedakan teks-teks syariat Islam dibanding dengan teks ajaran lainnya.
Salah seorang ulama yang memiliki jasa besar dalam perkembangan dan pembukuan hadis adalah imam besar umat ini yang berasal dari Kota Madinah, ia adalah Malik bin Anas rahimahullah. Beliau adalah orang pertama yang membukukan hadits dalam kitabnya al-Muwatta.
Mari sejenak mengenal seorang imam yang mulia ini…
Nasab dan Masa Pertumbuhannya
Beliau adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Harits bin Ghuyman bin Khutsail bin Amr bin Harits. Ibunya adalah Aliyah bin Syarik al-Azdiyah. Keluarganya berasal dari Yaman, lalu pada masa Umar bin Khattab, sang kakek pindah ke Kota Madinah dan menimba ilmu dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi salah seorang pembesar tabi’in.
Imam Malik dilahirkan di Kota Madinah 79 tahun setelah wafatnya Nabi kita Muhammad, tepatnya tahun 93 H. Tahun kelahirannya bersamaan dengan tahun wafatnya salah seorang sahabat Nabi yang paling panjang umurnya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Malik kecil tumbuh di lingkungan yang religius, kedua orang tuanya adalah murid dari sahabat-sahabat yang mulia. Pamannya adalah Nafi’, seorang periwayat hadis yang terpercaya, yang meriwayatkan hadis dari Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat-sahabat besar lainnya, radhiallahu ‘anhum. Dengan lingkungan keluarga yang utama seperti ini, Imam Malik dibesarkan.
Awalnya, saudara Imam Malik yang bernama Nadhar lebih dahulu darinya dalam mempelajari hadits-hadits Nabi. Nadhar mendatangi para ulama tabi’in untuk mendengar langsung hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari para sahabat. Kemudian Imam Malik pun mengikuti jejak saudaranya dalam mempelajari hadits. Beberapa waktu berlalu, Imam Malik melangkahi saudaranya dalam ilmu hadits. Kecemerlangannya semakin tampak karena Malik juga menguasai ilmu fiqh dan tafsir.
Perjalanan Menuntut Ilmu dan Menjadi Ulama Madinah 
Ibu Imam Malik adalah orang yang paling berperan dalam memotivasi dan membimbingnya untuk memperoleh ilmu. Tidak hanya memilihkan guru-guru yang terbaik, sang ibu juga mengajarkan anaknya adab dalam belajar. Ibunya selalu memakaikannya pakaian yang terbaik dan merapikan imamah anaknya saat hendak pergi belajar. Ibunya mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah, contohlah akhlaknya sebelum engkau mengambil ilmu darinya.”
Imam Malik belajar dari banyak guru, dan ia memilih guru-guru terbaik di zamannya agar banyak memperoleh manfaat dari mereka. Di antara pesan dari gurunya yang selalu beliau ingat adalah untuk tidak segan mengatakan “Saya tidak tahu” apabila benar-benar tidak mengetahu suatu permasalahan. Salah seorang guru beliau yang bernama Ibnu Harmaz berpesan, “Seorang yang berilmu harus mewarisi kepada murid-muridnya perkataan ‘aku tidak tahu’.
Setelah mempelajari ilmu-ilmu syariat secara komperhensif, Malik bin Anas mulai dikenal sebagai seorang yang paling berilmu di Kota Madinah. Beliau menyampaikan pelajaran di Masjid Nabawi, di tengah-tengah penuntut ilmu yang datang dari penjuru negeri.
Salah satu hal yang menarik dari kajian fiqih yang beliau sampaikan adalah penafsiran-penafsiran hadits dan pendapat-pendapat beliau banyak dipengaruhi oleh aktifitas yang dilakukan penduduk Madinah. Menurut Imam Malik, praktik-praktik yang dilakukan penduduk Madinah di masanya tidak jauh dari praktik masyarakat Madinah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penduduk Madinah juga mempelajari Islam dari para leluhur mereka dari kalangan para sahabat Nabi. Jadi kesimpulan beliau, apabila penduduk Madinah melakukan suatu amalan yang tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah, maka perbuatan tersebut dapat dijadikan sumber rujukan atau sumber hukum. Inilah yang membedakan Madzhab Imam Malik disbanding 3 madzhab lainnya.
Sifat dan Karakter Imam Malik
Dari segi fisik, Imam Malik dikarunia fisik yang istimewa; berwajah tampan dengan perawakan tinggi besar. Mush’ab bin Zubair mengatakan, “Malik termasuk seorang laki-laki yang berparas rupawan, matanya bagus (salah seorang muridnya mengisahkan bahwa bola mata beliau berwarna biru), kulitnya putih, dan badannya tinggi.” Abu Ashim mengatakan, “Aku tidak pernah melihat ahli hadits  setampan Malik.”
Selain Allah karuniai fisik yang rupawan, Imam Malik juga memiliki kepribadian yang kokoh dan berwibawa. Orang-orang yang menghadiri majlis ilmu Imam Malik sangat merasakan wibawa imam besar ini. Tak ada seorang pun yang berani berbicara saat ia menyampaikan ilmu, bahkan ketika ada seorang yang baru datang lalu mengucapkan salam kepada majlis, jamaah hanya menjawab salam tersebut dengan suara lirih saja. Hal ini bukan karena Imam Malik seorang yang kaku, akan tetapi aura wibawanya begitu terasa bagi murid-muridnya. Demikian juga saat murid-muridnya berbicara dengannya, mereka merasa segan menatap wajahnya tatkala berbicara. Wibawa itu tidak hanya dirasakan oleh para penuntut ilmu, bahkan para khalifah pun menghormati dan mendengarkan nasihatnya.
Imam Syafii yang merupakan salah seorang murid Imam Malik menuturkan, “Ketika melihat Malik bin Anas, aku tidak pernah melihat seoarang lebih berwibawa dibanding dirinya.” Demikian juga penuturan Sa’ad bin Abi Maryam, “Aku tidak pernah melihat orang yang begitu berwibawa melebihi Malik bin Anas, bahkan wibawanya mengalahkan wibawa para penguasa.”
Imam Malik juga dikenal dengan semangatnya dalam mempelajari ilmu, kekuatan hafalan, dan dalam pemahamannya. Pernah beliau mendengar 30 hadits dari Ibnu Hisyam az-Zuhri, lalu ia ulangi hadits tersebut di hadapan gurunya, hanya satu hadits yang terlewat sedangkan 29 lainnya berhasil ia ulangi dengan sempurna. Imam Syafii mengatakan,
إذا جاء الحديث، فمالك النجم الثاقب
“Apabila disebutkan sebuah hadits, Malik adalah seorang bintang yang cerdas (menghafalnya pen.).
Imam Malik sangat tidak suka dengan orang-orang yang meremehkan ilmu. Apabila ada suatu permasalahan ditanyakan kepadanya, lalu ada yang mengatakan, ‘Itu permasalahan yang ringan.” Maka Imam Malik pun marah kepada orang tersebut, lalu mengatakan, “Tidak ada dalam pembahasan ilmu itu sesuatu yang ringan, Allah berfirman,
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 5)
Semua permasalahan agama itu adalah permasalahan yang berat, khususnya permasalahan yang akan ditanyakan di hari kiamat.”
Imam Malik juga seorang yang sangat perhatian dengan penampilannya dan ini adalah karakter yang ditanamkan ibunya sedari ia kecil. Pakaian yang ia kenakan selalu rapi, bersih, dan harum dengan parfumnya. Isa bin Amr mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang yang berkulit putih ataupun merah yang lebih tampan dari Malik. Dan juga ian seseorang yang lebih putih dari pakaiannya.” Banyak riwayat-riwayat dari para muridnya yang mengisahkan tentang bagusnya penampilan Imam Malik, terutama saat hendak mengajarkan hadits, namun satu riwayat di atas kiranya cukup untuk menggambarkan kebiasaan beliau.
Hendaknya demikianlah seorang muslim, terlebih seseorang yang memiliki pengetahuan agama. Seorang muslim harus berpenampilan rapi, bersih, dan jauh dari bau yang tidak sedap. Sering kita lihat saudara-saudara muslim yang dikenal sebagai orang yang taat, mereka berpenampilan lusuh, pakaian tidak rapi karena jarang distrika atau karena lama tidak diganti, dan keluar bau tidak sedap dari tubuh atau pakaiannya, ironisnya ini terkadang terjadi saat shalat berjamaah. Agama kita sangat menganjurkan kebersihan dan Allah mencintai keindahan.
Firasat Yang Tajam
Sering kita dapati ketika membaca biografi orang-orang shaleh bahwasanya mereka memiliki firasat yang tajam. Demikian juga dengan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Imam Syafii mengisahkan tentang gurunya ini sebuah kisah yang menunjukkan kuatnya firasat sang guru. Kata Imam Syafii, “Ketika aku tiba di Madinah, aku bertemu dengan Malik, kemudian ia mendengarkan ucapanku. Ia memandangiku beberapa saat dan ia berfirasat tentangku. Setelah itu ia bertanya, ‘Siapa namamu?’ Kujawab, ‘Namaku Muhammad.’. Ia kembali berkata, ‘Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah, jauhilah perbuatan maksiat, karena aku melihat engkau akan mendapatkan suatu keadaan (menjadi orang besar pen.).”
Wafatnya
Imam Malik rahimahullah wafat di Kota Madinah pada tahun 179 H/795 M dengan usia 85 tahun. Beliau dikuburkan di Baqi’. Semoga Allah merahmati Imam Malik dan menempatkannya di surganya yang penuh dengan kenikmatan.

Baqi bin Makhlad rahimahullah

Pernahkah terpikirkan oleh Anda, bahwa zaman dahulu, ulama rela melakukan perjalanan antar benua demi menuntut ilmu agama?

Memang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di zaman ini, perjalanan seperti itu menjadi suatu hal yang biasa dan mudah. Pesawat terbang, kapal, kereta, dan berbagai sarana transportasi modern lainnya begitu mudah dijumpai di zaman ini. Sehingga perjalanan satu bulan yang ditempuh dengan berjalan kaki atau naik kuda, sekarang bisa dengan hitungan jam atau bahkan menit. Alhamdulillah, ini semua adalah kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat manusia.

Perjalanan sejauh itu, keadaannya sangat berbeda dengan di zaman dulu, ketika belum ada alat transportasi secanggih saat ini. Tidak perlu ditanyakan lagi pengorbanan apa saja yang dilakukan untuk sampai tempat tujuan. Baik pengorbanan harta, waktu, dan tenaga. Belum lagi rintangan-rintangan yang dihadapi.

Namun, hal itu bukanlah suatu hal yang mencengangkan bagi para pendahulu kita, dari kalangan shahabat dan para ulama generasi setelahnya. Baqi bin Makhlad adalah satu bukti nyata yang menggambarkan semangat para ulama yang menggelora dalam menuntut ilmu agama. Beliau yang berasal dari benua Eropa karena tinggal di Spanyol, rela melakukan safar yang sangat jauh menuju Timur Tengah.

Beliau menempuh perjalanan sejauh itu, tentunya memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Apalagi, menurut penuturan Al Qurthubi, Baqi bin Makhlad menembusnya hanya dengan jalan kaki. Beliau tidak pernah menaiki kendaraan seperti unta, kuda, atau yang semisalnya. Semua itu beliau lakukan demi satu tujuan yang mulia, yaitu menutut ilmu agama.

Kuniyah beliau adalah Abu Abdirrahman. Nama lengkapnya adalah Baqi bin Makhlad bin Yazid Al-Andalusi. Beliau tinggal di sebuah perkampungan yang bernama Qurthubah. Secara geografis, daerah ini masuk wilayah negara Spanyol di benua Eropa.

Saat itu, usia Baqi bin Makhlad masih sangat muda. Yaitu dua puluh tahun. Beliau memiliki fisik yang kuat dan perawakan yang tinggi. Hal ini ditunjang semangat beliau yang sangat tinggi untuk bertemu dengan Imam Ahmad di kota Baghdad.

Memang, di zaman beliau, popularitas sang imam begitu menggelegar di seantero negeri kaum muslimin. Tak terkecuali para ulama yang tinggal di negeri Maghrib (Maroko dan sekitarnya). Oleh karena itu, Baqi bin Makhlad sangat ingin bertemu dengan Imam Ahmad, kemudian belajar dan meriwayatkan hadits darinya.

Akhirnya, Beliau pun pergi meninggalkan kampung halaman. Untuk bertemu dengan Imam Ahmad yang tinggal nan jauh di sana. Bulan demi bulan beliau lalui. Sepanjang perjalanan, berbagai rintangan dihadapi dengan penuh ketabahan dan kesabaran.

Akan tetapi alangkah terkejutnya Baqi bin Makhlad, tatkala dalam perjalanan mendengar berita tentang cobaan yang menimpa Imam Ahmad. Yaitu fitnah Khalqul Qur’an, hingga beliau dicekal oleh penguasa Irak, dan dilarang untuk keluar rumah atau mengajar kaum muslimin. Penguasa Irak terpengaruh oleh pemikiran sesat, bahwa Al Quran adalah makhluk, bukan Kalamullah. Bahkan dengan kekuasaannya, raja memaksa siapa saja untuk meyakini akidah kekafiran ini.

Baqi bin Makhlad sangat sedih mendengar berita itu. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk menuntaskan perjalanannya sampai ke Baghdad.

Setibanya di Baghdad, pertama kali yang ia prioritaskan adalah mencari tempat tinggal yang layak untuk ditempati. Ia pun memutuskan untuk menyewa sebuah kamar sebagai tempat tinggal dan penyimpanan barang-barang bawaan.

Karena sejak awal maksud perantauannya adalah menuntut ilmu syar’i, maka beliau pun tidak ragu untuk bergegas mendatangi majelis-majelis ilmu di masjid Jami’ Baghdad. Di masjid tersebut, untuk kali pertamanya ia bergabung dengan sebuah majlis yang membahas tentang keadaan dan status para perawi (ilmu Jarh wa Ta’dil). Ada seorang ulama yang berbicara tentang keadaan para perawi. Apakah seorang perawi itu tsiqah (terpercaya keagamaan dan hafalannya), sehingga bisa diriwayatkan haditsnya. Atau sebaliknya, ia adalah seorang perawi yang dhaif (lemah), sehingga haditsnya tertolak. Itulah majelisnya Yahya bin Ma’in, seorang ulama jarh wa ta’dil yang sangat terkenal saat itu.

Baqi bin Makhlad rahimahullah pun memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin. Beliau bertanya perihal orang-orang yang pernah dijumpai. Tak terkecuali, ia bertanya kepadanya tentang Imam Ahmad. Yahya bin Ma’in menjawab, “Itulah dia imamnya kaum muslimin, orang terbaik dan paling mulia di antara mereka.”

Setelah peristiwa itu, Baqi bin Makhlad keluar dari masjid dan mencari rumah Imam Ahmad. Atas takdir Allah subhanahu wa ta’ala, ada seseorang yang berbaik hati untuk menunjukkan rumah sang imam. Setibanya di depan rumah, ia pun mengetuk pintu. Tidak lama, keluarlah seorang laki-laki menyambutnya. Baqi bin Makhlad mengatakan, “Wahai Abu Abdillah, aku adalah orang asing yang rumahnya sangat jauh. Ini adalah kali pertama aku masuk ke negeri ini. Aku adalah seorang pencari hadits dan pengikut sunnah. Tidaklah aku melakukan perjalanan jauh ini, melainkan untuk bertemu denganmu.”

Imam Ahmad rahimahullah mempersilahkannya untuk masuk. Beliau lantas bertanya, “Dari mana asalmu?” Ia menjawab, “Dari daerah maghrib yang jauh.” Sang Imam kembali bertanya, “Dari Afrika?” Ia menjawab, “Bukan. Lebih jauh lagi, negeri setelah Afrika. Aku harus menyeberangi lautan untuk sampai di Afrika. Aku tinggal di Andalus.” Setelah mengetahui tempat tinggalnya yang sangat jauh, sang imam berkata, “Sungguh tempatmu sangat jauh. Tidak ada yang lebih aku sukai daripada memberikan bantuan yang baik kepada orang sepertimu. Hanya saja aku sekarang sedang diuji, dengan sesuatu yang mungkin telah sampai beritanya kepadamu.”

Baqi bin Makhlad rahimahullah berkata, “Ya. Sungguh beritanya telah sampai kepadaku. Ini adalah kali pertama aku masuk ke dalam negeri ini. Sehingga aku tidak dikenal di sini. Jika anda mengizinkanku, aku akan datang setiap hari menemuimu dengan penampilan seorang peminta-minta. Aku akan mengatakan di depan pintu rumah anda, sebagaimana yang dikatakan oleh pengemis. Lalu anda keluar. Andaikan anda tidak menyampaikan kepadaku setiap harinya kecuali hanya satu hadits saja, maka itu sudah cukup bagiku.”

Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Baiklah. Tapi dengan syarat engkau tidak boleh menampakkan diri di dalam forum-forum majelis ilmu, dan tidak pula di kalangan para ahli hadits.” Ia pun menerima persyaratan tersebut.

Keesokan harinya, Baqi bin Makhlad mengambil sebatang ranting pohon dan melilitkan kain pada kepalanya. Adapun kertas dan tinta disembunyikan di balik lengan bajunya. Tatkala sampai di pintu rumah Imam Ahmad, Baqi bin Makhlad berkata dengan suara yang lantang, “Bersedekahlah, semoga Allah merahmatimu!” Maka Imam Ahmad keluar menemuinya kemudian menutup pintu. Beliau menyampaikan dua hadits, tiga, atau bahkan lebih.

Periwayatan hadits seperti ini terus berlangsung hingga berakhirlah cobaan yang menimpa Imam Ahmad rahimahullah. Sehingga, sang imam diberi kesempatan lagi untuk menyampaikan hadits dan pengajaran kepada kaum muslimin di berbagai halaqah. Baqi bin Makhlad pun tiada pernah ketinggalan menghadiri halaqah-halaqah tersebut. Wajar jika sang Imam sangat memperhatikan dan memuliakannya. Seringkali nama Baqi bin Makhlad disebut-sebut dalam majelis. Bahkan beliau mendapat predikat dari sang Imam sebagai pencari ilmu yang sesungguhnya.

Selama menimba ilmu dari Imam Ahmad, tidak selamanya Baqi bin Makhlad bisa menjalaninya tanpa ada halangan suatu apa. Pernah suatu ketika ia jatuh sakit selama beberapa hari. Akibatnya, ia tidak bisa menghadiri majelis-majelis periwayatan hadits.

Imam Ahmad merasa sangat kehilangan. Sehingga bertanya kepada sebagian hadirin tentang kabarnya. Tatkala ada yang mengatakan bahwa ia sedang sakit, dengan disertai sekian banyak orang, sang Imam bergegas menuju penginapannya. Saat itu keadaan Baqi bin Makhlad cukup menyedihkan. Karena ia berada seorang diri di sebuah kamar sewaan. Dalam keadaan tertidur beralaskan tikar dan hanya ditemani buku-bukunya yang berantakan.

Tiba-tiba, datanglah pemilik penginapan untuk memberitahukan tentang kedatangan Imam Ahmad beserta rombongan. Setibanya di sana, Imam Ahmad berusaha untuk menghibur dan membesarkan harapan Baqi bin Makhlad. Beliau rahimahullah mengatakan, “Wahai Abu Abdirrahman (Baqi bin Makhlad), berbahagialah dengan meraih pahala Allah. Sungguh engkau telah menjalani hari-hari sehatmu dengan baik. Sekarang tibalah hari-hari sakitmu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memuliakanmu dengan keselamatan dan mengusapkan kesembuhan kepadamu dengan tangan kanan-Nya.”

Baqi bin Makhlad rahimahullah berkisah, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabulkan doa Imam Ahmad. Setelah beliau keluar, maka orang-orang berduyun-duyun mengunjungiku. Mereka membawa berbagai bentuk bantuan. Seperti kasur, makanan, minuman, perawatan, dan yang lainnya. Sungguh luar biasa perhatian mereka. Bahkan, melebihi perhatian kedua orang tuaku.”

Demikianlah sepenggal kisah keteladanan perjuangan salaf kita dalam menuntut ilmu. Semoga bisa menjadi pelajaran dan renungan bagi kita semua. Lihatlah berbagai pengorbanan Baqi bin Makhlad, ‘hanya’ dalam rangka mencari hadits dan menuntut ilmu. Mulai dari perjalanan fantastis antara benua yang beliau lakukan, lalu penyamaran beliau sebagai pengemis agar bisa mendapatkan hadits. Sampai ujian sakit yang beliau alami selama menuntut ilmu di negeri orang, tanpa kehadiran satu pun anggota keluarga untuk merawatnya. Semuanya dijalani dan dihadapi dengan penuh kesabaran.

Lalu bagaimana dengan kita? Apa yang telah kita korbankan untuk menuntut ilmu agama atau mendakwahkannya?! Perjuangan apa yang telah kita lakukan?! Ingatlah, bahwa ilmu ini tidak akan bisa diraih dengan jasad yang santai dan bermalas-malasan. Sejauh mana pengorbanan dan upaya yang dilakukan oleh seorang hamba dalam menuntut ilmu, maka sejauh itu pula Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan balasan baik di akhirat nanti.

Sungguh, apa yang selama ini kita lakukan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan beliau. Itulah Al-Imam Baqi bin Makhlad semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau. Allahu a’lam.

KISAH EMAS IMAM AHMAD BIN HANBAL

“Wahai Imam, engkau sekarang ini adalah pemimpin umat dan semua orang mengikutimu, Demi Allah jika engkau mengakui al Qur’an adalah Makhluk, niscaya semua orang akan mengatakan yang serupa padamu, dan jika engkau tidak mengucapkanya maka orang banyak tidak mengucapkanya, sementara itu jika engkau tidak mati dibunuh oleh al Ma’mun, toh engkau juga akan mati, bertakwalah pada Allah dan jangan turuti kemauan mereka”

KISAH EMAS IMAM AHMAD BIN HANBAL rahimahullah



Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam beserta para shahabatnya yang mereka ridha pada Allah dan Allah pun ridha pada mereka dan senantiasa akan selalu ada sekelompok yang mengikutinya dan membela mereka, adapun Syi’ah Allah akan laknat dengan kebesaran selaknatNya sesuai keagunganNya, Syi’ah bukanlah bagian dari Islam, Syi’ah adalah Agama Kafir si pembunuh, si pengkhianat, dan sekandung dengan anak monyet Yahudi Laknatullah.

Ujian dalam hidup merupakan sebuah yang lumrah, setiap orang mempunyai ujian, setiap orang mempunyai permasalahan, apapun permasalahan itu dan apapun ujian itu sebaik-baik adalah bersabar, sebaik-baik kesabaran adalah pada pertama kali anda bersikap ketika mendapatkan musibah, Ujian dalam kehidupan tidak menimpa manusia yang awam, ujianpun bisa dating kepada orang-orang ‘alim yakni para ulama terlebih lagi seorang ulama yang berpegang teguh pada aqidah ash shahihah begitu banyak ujiannya baik dari kalangan luar islam seperti kaum Yahud, Nashrani, Syi’ah Rafidhah, serta kaum musyrikin dan dalam islam itu sendiri seperti Kelompok-kelompok sesat , Mu’tazilah, Jahmiyyah, Jabriyyah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah yang mana mereka beranak cucu melahirkan firqah/aliran tersendiri.

Sudah selayaknya kita mendulang faedah dari sikap para ‘ulama yang senantiasa berpegang teguh pada Dien agama ini, terkhusus pada seorang Ulama yang ‘alim, memiliki keutamaan, Pendekar Sunnah beliau Adalah al Imam Ahmad Bin Hanbal radhiyallahu’anhu betapa teguhnya beliau menjaga aqidah ash shahihah, menjaga sunnah Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam, oleh karena itu tatkala kita menghadapi ujian dan mendapatkan cobaan dari Rabb-nya yang sedang mengujinya, maka termasuk yang dapat mendatangkan keteguhan. Allah jadikan ucapan-ucapanya bermanfaat menguatkan setiap langkah, mendatangkan ingatan kepada Allah, perjumpaan dengan-Nya, Surga-Nya dan Neraka-Nya, maka Kisah al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjadikan kita lebih bersemangat untuk menekuni ilmu syar’I yang membuahkan keteguhan terhadap Aqidah Ashahihah.

Kaum Muslimin rahimahullah.. ketahuilah kejadian pada masa Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahullah adalah kejadian yang membuahkan emas bagi sunnah, kejadian yang sunnah hidup setelahnya namun paatut kita renungkan kejadian yang membuahkan emas tentu tidak semudah memperjuangkannya perlu keimanan dan keteguhan serta mengorbankan diri, al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah hidup pada zaman yang mana penguasayang bernama Khalifah al Ma’mun yang mewajibkan pada rakyatnya untuk mengatakan sebuah kalimat kufur yakni ”al Qur’an adalah Makhluk” , dengan keimanan beliau yang kuat berpegang diatasnya dan beliau adalah ulama umat yang membawa banyak kaum muslimin, dimana langkah beliau dalam menanggapi perintah penguasa dzalim al Ma’mun untuk mengatakan “al Qur’an adalah makhluk” ini dinantikan oleh banyak kaum muslimin, kiranya Al Imam mengatakan al Qur’an adalah makhluk maka kaum muslimin serentak mengatakan demikian, namun al Imam Ahmad bin Hanbal dengan keimanan yang kuat tidak mengucapkan kalimat kufur tersebut, dan dengan sikap beliau yang teguh untuk tidak mengatakan al Qur’an Makhluk mengakibatkan beliau di penjara, dirantai serta disiksa oleh pecut yang mana jika pecut itu ditimpa pada anak unta maka anak unta tersebut akan mati, ini membuktikan betapa keras pecutan tersebut pada imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, perlu diketahui kita sebagai muslim wajib mengimani bahwa al Qur’an adalah kalamullah Bukan Makhluk.. al Qur’an adalah perkataan Allah bukan makhluk, dan al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah telah menuliskan disebuah kitab beliau tentang dalil-dalil bahwa al Qur’an adalah Makhluk dalam kitab Ushulus Sunnah.

IMAM AHMAD DIRANTAI DAN DIANCAM DIBUNUH DENGAN PEDANG

Dalam keadaan terbelenggu rantai, Imam Ahmad menghadap penguasa dzalim al Ma’mun sementara hukuman berat telah mengancam dirinya sebelum dia sampai ketempatnya, sehingga pembantu imam ahmad berkata kepada al Imam : “Aku Sungguh khawatir wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), sebab al Ma’mun telah menghunuskan pedangnya yang selama ini belum pernah dia lakukan, dan atas kerabatnya dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dia telah bersumpah, jika engkau tidak menuruti kehendaknya untuk menyatakan bahwa Al Qur’an adalah Makhluk niscaya dia akan membunuhmu dengan pedang tersebut.” [ al Bidayah wan Nihayah 1/332 ]

Dari riwayat diatas mengisahkan bahwa pembantu Imam Ahmad tidak ingin terjadi pembunuhan kepada al imam, maka pembantu al imam memberi usul pada al Imam untuk menuruti perkataan al Ma’mun yang penting hati kita tidak menyetujuinya, Namun al Imam Ahmad tetap teguh pada imannya dan tidak ingin mengucapkan kalimat kufur itu. Disisi lain ada seseorang bernama Abu Ja’far al Anbari, kemudian beliau saking ingin mensuport al imam dalam menghadap al Ma’mun sampai berkorban melewati sungai eufrat,

Abu Ja’far al Anbari berkata : “Aku diberitahu saat Imam Ahmad dibawa menghadap al Ma’mun, maka aku segera menyebrangi sungai eufrat, setelah tiba aku dapati Imam Ahmad ditempatnya, maka aku member salam padanya”

lalu Imam Ahmad berkata padaku : “Wahai Abu Ja’far, engkau telah menyusahkan dirimu,” ( maksud Imam ahmad “Ngapain jauh-jauh kesini, hanya menyusahkan dirimu saja “)

lalu aku menjawab : “Wahai Imam, engkau sekarang ini adalah pemimpin umat dan semua orang mengikutimu, Demi Allah jika engkau mengakui al Qur’an adalah Makhluk, niscaya semua orang akan mengatakan yang serupa padamu, dan jika engkau tidak mengucapkanya maka orang banyak tidak mengucapkanya, sementara itu jika engkau tidak mati dibunuh oleh al Ma’mun, toh engkau juga akan mati, bertakwalah pada Allah dan jangan turuti kemauan mereka”.

Maka Imam Ahmad Menangis seraya berkata “Masya Allah”.

Kemudian beliau berkata : “Wahai Abu Ja’far Ulangilah…”, maka aku mengulanginya dan beliau berkata : “Masya Allah”.

Riwayat diatas menjelaskan betapa pentingnya peran dari seorang Imam Ahmad Bin Hanbal sebagai Ulama pada masa-nya , dengan kata lain bahwa umat senantiasa menunggu fatwa beliau agar kaum muslimin bersikap sesuai fatwa beliau, ini membuktikan al Imam Ahmad adalah Ulama panutan pada masanya sampai-sampai abu ja’far menyeberangi sungai eufrat, yang awalnya al Imam menggap itu perkara yang menyusahkan abu ja’far sedangkan abu ja’far hanya menyampaikan kepada Al Imam untuk mensuport agar tidak mengatakan “al Qur’an Makhluk” maka Al Imam terharu dan menangis. [ Siyar a’lam Nubala]

UMAT ISLAM MENARUH HARAPAN PADA IMAM AHMAD BIN HANBAL rahimahullah

Dalam al Bidayah wan Nihayah, diriwayatkan bahwa seorang baduiberkata kepada Imam Ahmad : “Wahai Imam, engkau adalahutusan umat, janganlah engkau mengecewakan mereka, engkau adalah pemimpin Umat, janganlah engkau memenuhi seruan al Ma’mun ( untuk mengatakan al Qur’an Makhluk ), sehingga mereka akan mengikutimu maka engkau akan menanggung dosa-dosa mereka pada hari kiamat, jika engkau mencintai Allah maka bersabarlah, atas apa yang engkau derita kini, mereka tidak ada penghalang antara engkau dan surga kecuali selain terbunuhnya engkau” Lalu al Imam Ahmad berkata : “Ucapanya semakin menguatkan tekadku atas sikap aku ambil yakni menolak apa yang Al Ma’mun serukan padaku ( untuk mengatakan Al Qur’an Makhluk]” [al Bidayah wan Nihayah 1/332]
Masya Allah sungguh amat terharu penulis mengetik kisah ini, sangat-sangat jauh berbeda keadaan pada kondisi kaum muslimin saat ini, dimana kaum muslimin sibuk dengan pekerjaan dan kesibukan lalu jauh dari para ulama ddan jauh pula dari ilmu, dan tentu berbeda pula keadaan orang yang dianggap ustadz saat ini, berucap kemusyrikan / kekufuran amat ringan dilidah seperti Tawasul pada selain Allah, Istighatsah pada selain Allah, berucap sesuai pada hawa nafsu nya sendiri.

Maka dari sini kita bisa ambil betapa pentingnya peranan ulama ditengah kaum muslimin, dan betapa utama-nya jika kaum muslimin haus akan ilmu syar’i yang dekat dengan para ulama. Sehingga ulama sekaliber al Imam Ahmad dengan aqidah yang penuh, bisa bersabar akan kondisi yang ada meskipun diancam dibunu oleh peguasa, tak akan gentar dalam diri imam ahmad. Sungguh berbeda dengan sebagian kaum muslimin sekarang kesabaran atas kedzaliman penguasa merupakan sifat yang lembek, sifat penjilat dst, padahal seberapa dzalim antara pemerintah kita denga penguasa DIMASA Imam Ahmad, tentu lebih dzalim pada masa Imam Ahmad namun beliau tetap sabar.

MUHAMMAD BIN NUH [ MURID IMAM AHMAD YANG SETIA PADA AL HAQ ]

Suatu hari al Imam bercerita tentang Muhammad bin Nuh, Muhammad bin Nuh adalah seorang murid/reka yang setia dalam ketabahan didalam penjara bersam Imam Ahmad, al Imam Ahmad berkata tentang Muhammad bin Nuh : “Tidak perah aku melihat seseorang dengan usianya yang masih muda dan keterbatasan ilmunya yang lebih lurus daripada Muhammad bin Nuh, aku berharap dia mendapatkan Husnul Khatimah, Muhammad bin Nuh bicara padaku : “Wahai Abu Abdillah, camkanlah sesungguhnya engkau bukanlah sepertiku, engkau adalah orang yang menjadi panutan orang sedang menjulurka lehernya kepadamu menanti apa yang beliau ucapka, bertakwalah pada Allah, dan teguhlah dijalan Allah.” Maka ketika dia meninggal aku menshalati dan menguburkanya [siyar a’lam a Nubala 11/242]

PERKATAAN CAHAYA IMAN DIHATI IMAM AHMAD rahimahullah

Suatu Saat Imam Ahmad berkata dalam penjara :” Aku tidak peduli dengan penjara, bagiku penjara dan rumah sama saja, begitu juga dengan pedag yang akan membunuhku, akan tetapi yang aku takutkan adalah cambukan”. Ucapan Imam Ahmad yang terakhir yakni “akan tetapi yang aku takutkan adalah cambukan”.perkataan ini menjadi perhatian bagi para penghuni penjara lainya, dan salah satu penghuni penjara berkata untuk meghibur kepada Imam Ahmad :”Tidak usah khawatir wahai Abu Abdillah, paling hanya dua kali cambukan, selebihnya engkau tidak aka tahu dibagian mana egkau akan cambuk.”[siyar A’lam Nubala 11/240]

Kamis, 21 Agustus 2014

JENAZAH YG HIDUPNYA TIDAK SHALAT...

Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal.

Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat ke jenazah dan menutup aurat tersebut.



Lalu dengan susah payah aku menyeretnya ke arah kiblat dan aku buka kafan di bagian mukanya. Aku melihat pemandangan yang aneh. Matanya terbe-lalak dan berwarna hitam. Aku menjadi takut dan segera memanjat ke atas dengan tidak menoleh ke belakang lagi.

Setelah sampai di apartemen, aku menghubungi salah seorang anak perempuan jenazah. Ia bersumpah agar aku menceritakan apa yang terjadi saat memasukkan jenazah ke dalam kuburan. Aku berusaha untuk mengelak, namun ia terus mendesakku hingga akhirnya terpaksa harus memberitahukannya. Ia berkata, Ya Syaikh (panggilan yang sering diucapkan kepada seorang ustadz-red), ketika anda melihat kami bergegas keluar dikarenakan kami melihat wajah ibu kami menghitam, karena ibu kami tidak pernah sekalipun melaksanakan shalat dan meninggal dalam keadaan berdandan.

Kisah nyata ini menegaskan bahwa Allah SWT menghendaki agar sebagian hamba-Nya melihat bekas Su-ul khatimah hamba-Nya yang durhaka agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang beraka

kisah nyata yag menginspirasi

Selasa malam itu, setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam.

Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.



Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya (Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, “Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah isteri dan anak saya?”

Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. ” Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.

Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk.

“Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya. Dan alhamdulillah, saya justeru mendapatkan teh manis hangat dari tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut. “Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.

Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat “Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya” sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana? Tanya saya Saya tinggal di daerah Bintaro tapi…(dia menghentikan bicaranya), Bapak pulang bekerja ? dia balas bertanya.

“Ya” jawab saya singkat.

“Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak menunggu? Tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.

“Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.” Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau saya salah omong.

Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan? Pintanya dengan sedih dan sopan. Airmatanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.

Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. “ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya. “Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak saya” kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang membuat saya heran. Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya? tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus meng-ikhlas- kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun.

Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.

Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.

Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah saya baru sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. “Gila.Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua didalamnya” dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar meng-ikhlaskan semuanya. “Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya biar bisa lebih ikhlas” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.

Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil padahal hal ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan karena kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi malam. Saya belum benar-benar meng-ikhlaskan kejadian tadi malam bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati karena telah menipu saya.

Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus.

“Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan? tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala..

Segera saya buka kotak tersebut dan “Ya Allah, semua milik saya kembali. Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang tertulis ;

” Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah saya berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di Depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di hate bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. Terima kasih.

Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada dihadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua uangnya diserahkan saja ke mesjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut.(copas dari sebuah milis..)-- Yaa Alloh.. Terima kasih atas nikmat dari-Mu utk berjuang menjemput rizki halal utk keluarga kami.. Hikz

4 AYAT ANTI GALAU!

Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal p
ergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.

“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.

Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...

Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.

Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.

Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)

Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.

Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...

Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.

Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.

Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;

1. Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.

2. Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

Ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...

Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.

Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.

3. Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).

4. Dzikrullah (Mengingat Allah)
Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...

Sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.

Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita.

Ayat Al-Quran yang Dikagumi Yahudi

Bagi kaum Muslim, mengagumi Al Quran barangkali menjadi hal yang biasa. Apalagi dengan penemuan-penemuan terakhir dari para ilmuwan yang kian mengokohkan kebenaran Al Quran. Di antaranya, bulan yang pernah terbelah, adanya sungai bawah laut hingga penemuan jejak arkeologi kaum-kaum terdahulu. Memang semua tidak disebutkan, karena Al Quran menerangkan hanya sebagian dari kisah kaum terdahulu yang akan ditampakkan bekas-bekasnya.

“Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.” (QS. Huud, 11: 100)

Ternyata, bukan hanya kaum Muslimin dan ilmuwan berakal saja yang mengagumi Al Quran, sebagai kitab yang tetap terjaga keshahihannya. Bahkan sejak dulu kaum Yahudi juga mengagumi Al Quran. Dalam sebuah riwayat dikisahkan perbincangan antara ‘Umar bin Khattab dan Yahudi.

Dari Thariq bin Syihab, ia mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Umar bin Khattab:
“Kalian membaca sebuah ayat dalam Kitab (al-Qur’an) kalian. Sungguh apabila ayat itu turun kepada kami bangsa Yahudi, tentu hari turunnya ayat itu akan kami jadikan sebagai hari raya.”
Umar bertanya: “Ayat yang mana?”
Mereka menjawab, “Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku untukmu.” (Al-Maidah: 3)
Umar berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku betul-betul mengetahui hari apa ayat itu turun kepada Rasulullah dan saat apa ayat itu turun. Ayat itu turun kepada Rasulullah pada sore hari Arafah, hari Jum’at.”
Percakapan di atas juga menegaskan, semestinya seorang muslim, bangga dengan keislamannya, sebab Allah telah menjamin kesempurnaan Islam. Dengan kebenaran dan kesempurnaan Islam, seorang muslim tidak perlu lagi bingung mencari sistem yang lebih baik ketimbang Islam.

Imam Thabrani telah mengeluarkan riwayat hadits dari Abu Dzar al-Ghifari yang menyatakan, “Rasulullah telah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkan ilmu kepada kami setiap kali kepakan sayap burung itu.”

Dengan kebenaran dan kesempurnaan Islam, dunia pernah merasakan buahnya kurang lebih seribu tahun, sejak Rasulullah hingga kekhilafahan Turki Utsmani pecah pada tahun 1924 masehi.
Jika orang Yahudi saja bisa berkata seperti itu, apakah sebagai muslim kita tidak bangga dengan Islam?